"Tenun ikat Sumba memiliki keunikan dan kekhasan pada proses pembuatannya yang memakan waaktu lama, sebab mengandung nilai-nilai spriritual yang tinggi. Selain itu, pembuatannya juga membutuhkan konsentrasi yang tinggi, pewarnaan dengan bahan-bahan alami, serta transfer ilmu pengetahuan tenun yang masih berjalan namun sangat lambat," jelas Wiendu dalam jumpa pers di kantor Kemendikbud, Jl Sudriman, Jakarta, Senin (16/4/2012).
Wiendu menjelaskan tenun ini menjadi bagian penting bagi kehidupan masyarakat NTT. Tenun ikat punya peranan dalam setiap perjalanan hidup masyarakat setempat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di NTT, seni tenun dilestarikan di setiap klan pada setiap suku. Seniman tenun ikat sebagian besar merupakan wanita di setiap keluarga inti.
"Namun, bisa juga laki-laki apabila dalam keluarga inti itu tidak memiliki anak perempuan. Dan dalam mekanismen pengetahuan menenun, peran utama dipegang oleh wanita, yakni nenek atau ibu di keluarga inti setiap klan," jelasnya.
Pertimbangan lain, lanjut Wiendu, pengusulan ini juga berdasarkan masih besarnya peluang untuk diterima UNESCO. Dia berharap hal ini bisa melestarikan kebudayaan yang sudah turun menurun tersebut.
"Kita bersyukur, pengusulannya diterima secara resmi oleh UNESCO 10 hari lalu, dan kita mencoba untuk mensosialisasikan pada masyarakat, supaya masyarakat tahu persis apa yang diusulkan, guna mencintai produk dan budaya Indonesia," kata Wiendu.
(gah/gah)











































