"Pasti akan berdampak karena dari tindakan yang dilakukan oleh konon dari TNI itu akan mempengaruhi kondisi di lapangan, terutama orang yang suka berkeliaran tengah malam," papar Zainal pada detikcom, Senin (16/4/2012).
Maka dari itu, Zainal meminta agar aparat kepolisian menciptakan rasa aman bagi pengendara, khususnya untuk malam hari agar efek traumatis bisa mereda.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apakah saat ini Jakarta bisa disebut sebagai kota yang tidak aman, Zainal tidak sependapat. Menurutnya, konteks tidak aman hanya muncul ketika malam hari di mana kekerasan geng motor marak terjadi.
"Kalau sampai di sana mungkin terlalu jauh. Kalau melihat konteks kekerasan yang dilakukan oleh geng motor itu kan lihat jadwalnya tengah malam menjelang pagi. Mungkin yang merasa bahwa ada rasa tidak aman di situ adalah anggota masyarakat yang sering beraktivitas di jam-jam itu. Berbeda kalau tindakan itu tidak kenal waktu, bisa menciptakan keresahan secara umum. Sehingga dampaknya terbatas," tutupnya.
Sekitar 200 orang, diduga dari kelompok TNI yang mengenakan pita kuning, berkonvoi dengan sepeda motor pada Kamis malam hingga Jumat dinihari (12-13 April). Mereka menyerang orang-orang secara acak yang berada di pinggir jalan. Aksi mereka diduga untuk mencari geng motor penusuk rekan mereka, Kelasi Arifin, 31 Maret silam. Namun siapa mereka sebenarnya, polisi belum mengungkapnya. Polisi berkilah, pihaknya masih "mendalami".
(fjr/nrl)











































