Pengangguran dan Perusahaan Fiktif Sumbang Mega
Selasa, 10 Agu 2004 18:05 WIB
Semarang - Berdasarkan investigasi Panwaslu Jateng, satu dari empat perusahaan yang diduga menjadi donatur kampanye Mega di Jateng tidak ditemukan. Sepertinya perusahaan yang berlabel PT. Semen Grobogan itu memang benar-benar fiktif.Demikian disampaikan anggota Panwaslu Jateng Bidang Pengawasan Ahsanul Minan kepada wartawan di kantornya, Jl. Veteran Semarang, Selasa (10/8/2004) sore.Dikatakan Minan, alamat perusahaan yang menyetor dana sebesar Rp 600 juta ke Mega itu tak jelas. Padahal, nama perusahaan itu tercantum dalam daftar donatur sebagaimana laporan tim kampanye Mega - Hasyim kepada KPU per tanggal 7 Juni 2004."Sore ini, kami sudah kirimkan hasil investigasi kami ke pusat (Panwaslu Pusat). Terserah bagaimana kelanjutannya, yang jelas kami sudah lakukan tugas sebagaimana permintaan mereka tertanggal 04 Agustus 2004," tandas Minan.Tiga perusahaan lainnya yang berlokasi di Semarang yakni, PT. Mega Mulya Keramik, PT. Matahari Jaya Makmur, dan PT. Matahari Silverindo Jaya, mengaku benar-benar menyumbang tim kampanye Mega sebesar 750 juta rupiah.Tak Masuk AkalUntuk donatur perorangan Mega di Jateng sebanyak 26 orang, kata Minan, tak masuk akal. "Berdasarkan hasil investigasi banyak diantara mereka tak mungkin bisa menyumbang dalam hitungan puluhan juta. Ini bisa dilihat dari jenis profesinya," paparnya.Misalnya, lanjut Minan, Najib Rustamadji warga Jl. Garuda 22 Boyolali. Setelah diinvestigasi, lelaki ini tak punya pekerjaan tetap. Dia sering bekerja sebagai tukang pijat. Murhadi warga Menggungan Sawahan Ngemplak Boyolali juga begitu. Ia dikenal sebagai pengangguran."Lamidi, warga Jetis Gagaksipat, Ngemplak, Boyolali, hanya buruh pabrik pembuatan sangkar burung. Mana mungkin orang seperti mereka bisa menyumbang jutaan rupiah," tegas Minan.Anggota Panwaslu dari unsur masyarakat ini mengatakan, pihaknya memang belum menelusuri semua donatur perorangan. Baru sekitar 26,9% atau 8 dari 26 orang sebagaimana laporan ICW dan TI. "Tapi berdasarkan hasil sementara bisa dikatakan banyak yang tak masuk akal," demikian Minan.
(nrl/)











































