Β
Anggota Dewan dari Fraksi Partai Gerindra Martin Hutabarat mengatakan, sistem proporsional terbuka yang terdapat dalam UU Pemilu yang disahkan DPR, Kamis (12/4), hanya memberikan kesempatan pada mereka yang punya uang banyak dan artis untuk menduduki kursi di Senayan atau DPR.
"Kekhawatiran bahwa banyak artis-artis akan menjadi calon DPR dalam pemilu mendatang itu harus dilihat trennya. Jadi orang yang punya modal yang cukup kuat dan artis, ini tren dari UU Pemilu yang baru saja disahkan kemarin," ujar Martin Hutabarat di DPR, Jumat (13/4).
Martin mengatakan, ada hal yang harus dilakukan yakni bagaimana pemilu menghasilkan orang yang berkualitas, berintegritas, dan tidak hanya diisi oleh orang-orang punya modal kuat dan orang-orang yang disponsori pemodal serta artis-artis yang memiliki popularitas tinggi. "Ini gejala dan perlu diwaspadai," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bahkan, kata Martin, sejumlah artis saat ini telah berusaha mendekati dirinya untuk masuk Partai Gerindra. "Hari ini saya mendapat dua SMS dari artis tertentu. Mereka menanyakan bagaimana caranya masuk Gerindra. Ini kan sangat peluang bahwa orang-orang yang memiliki popularitas tinggi seperti kalangan artis itu akan banyak dalam calon-calon mendatang yang nyaleg," ujarnya.
Penasihat Fraksi Partai Gerindra DPR RI mengatakan, artis-artis itu ingin masuk Gerindra dengan harapan bisa duduk sebagai anggota DPR. Apalagi, sistem terbuka memuat peluang mereka semakin besar. Karena, popularitas artis lebih tinggi. "Sistem terbuka ini memang semakin membuat DPR akan dipenuhi para artis," ujar anggota DPR Dapil Sumatera Utara III ini.
Sekadar diketahui, di internal Fraksi Partai Gerindra sendiri sudah ada anggotanya yang berlatar belakang artis yakni Jamal Mirdad dan Rachel Maryam. Sejumlah artis lainnya juga ada di beberapa fraksi. (nwk/nwk)











































