Pengakuan TKI:
Jadi TKI Ilegal Malah Untung
Selasa, 10 Agu 2004 16:28 WIB
Jakarta - Tenaga Kerja Indonesia (TKI) merupakan tenaga kerja ilegal terbesar di Malaysia. Mengapa? Ternyata, menurut salah seorang TKI, menjadi TKI ilegal lebih menguntungkan dibanding menjadi TKI legal.Siti Badriyah, asal Semarang yang bekerja di Malaysia menyatakan pengakuan tersebut dalam acara "Jumpa Pers dan Testimony Mantan TKI dan TKW Ilegal Malaysia", di Sekretariat Migrant Care, Jl. Cipinang Pulo Maja, Cipinang, Jakarta Timur, Selasa (10/8/2004). Selain Badriyah hadir juga dalam acara itu, TKI lainnya Nurjanah dan Cariyem.Badriyah menuturkan, ia berangkat ke Malaysia karena merasa kesulitan mencari kerja di Indonesia. Perempuan berusia 27 tahun itu berburu ringgit dengan menjadi pembantu rumah tangga di negeri seberang itu. Namun malang, kenyataan yang terjadi jauh dari impian. Tak seringgitpun ia dapatkan. Majikan mengaku membayarkan gajinya kepada agen TKI yang membawanya. "Selama sekitar 8 bulan menjadi TKI legal di Malaysia saya malah tidak mendapatkan gaji dari majikan saya," katanya.Padahal kepada majikan, Badriyah tak hanya bertugas mengurus pekerjaan rumah tangga tapi juga harus menjaga toko majikannya. Jam kerjanya pun sangat panjang hampir 24 jam setiap harinya. Malangnya saat dia sakit, perempuan itu dikembalikan ke agensi. Di agensi kemalangan terus mengikutinya, ia dianiya. Akhirnya Badriyah memilih melarikan diri walaupun surat-surat dan dokumen seperti visa dan paspor ditahan agensi.Dari sinilah, Badriyah kemudian menjadi TKI ilegal. Ia memamg selalu was-was ketika melihat polisi Malaysia. Namun siapa nyana, status ilegal justru memudahkan Badriyah mendapatkan ringgit. "Menajdi TKI ilegal saya malah untung. Saya bekerja di kantin suatu pabrik dan mendapat gaji Rp 700 ringgit per bulan," ceritanya mengenang.Meski mengaku untung, Badriyah selalu was-was ditangkap polisi Malaysia yang sering melakukan razia terhadap TKI ilegal. Akhirnya setelah 4 bulan menjadi TKI ilegal, Badriyah memutuskan pulang. "Saya harus membayar ongkos kepulangan 1.500 ringgit kepada cukong. Padahal kalau legal hanya membayar Rp 500 ringgit untuk sampai ke Jakarta," kata Badriyah. Badriyah mengaku sudah mengadukan masalah yang dialami ke Depnaker. "Tapi sepertinya Depnaker lepas tangan dan malah meminta agar saya minta ganti gaji yang nggak terbayar itu ke agensi," jelasnya sedih.
(iy/)











































