"Ke depan shelter-shelter harus dibangun untuk bisa menampung 5 ribu orang. Di samping adanya jalur evakuasi sehingga masyarakat pesisir pantai tidak perlu ke gunung saat terjadi gempa," ujar Agung Laksono dalam jumpa pers di kantornya, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Kamis (12/4/2012).
Shulter tersebut nantinya akan dibangun dalam 2 model yaitu yang dibangun di pusat pemukiman warga dan di bukit. Selain berfungsi sebagai shelter bencana, sehari-hari juga bisa digunakan sebagai tempat aktivitas masyarakat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal ini diambil dari pelajaran saat evakuasi gempa/tsunami sebelum-sebelumnya. Gempa membuat kepanikan warga sehingga masyarakat berbondong-bondong memenuhi jalan.
"Sebagai bentuk dari mitigasi gempa dan tsunami, jalur evakuasi sangat penting untuk dibangun. Saya ingat tsunami di Manado beberapa waktu lalu itu tidak menimbulkan apa-apa. Tetapi lalu lintas jadi kacau karena tidak ada proses evakuasi yang baik. Karena ke depan yang harus dipikirkan adalah bagaimana mengevakuasi warga saat bencana terjadi. Kalau memindahkan semua ke gunung ini jadi masalah," ungkap Agung.
"Lalu bagaimana dengan dana pembangunan shelter?" tanya wartawan.
"Ini tentu membutuhkan anggaran yang tidak sedikit tapi rencana ini sebetulnya sudah ada," jawab Agung.
(asp/nrl)










































