Kebocoran Nuklir Jepang, Operator Akui Longgarnya Inspeksi
Selasa, 10 Agu 2004 15:22 WIB
Jakarta - Pihak operator pembangkit listrik tenaga nuklir Jepang mengakui adanya kelonggaran inspeksi keamanan menyusul terjadinya kebocoran pada pembangkit tersebut. Insiden yang terjadi Senin (9/8/2004) kemarin itu menewaskan empat pekerja dan melukai tujuh lainnya.Kansai Electric Power Company, perusahaan yang mengelola pembangkit nuklir tersebut, menyatakan bahwa pipa yang bocor dalam peristiwa maut itu tidak pernah diperiksa ketebalannya selama 28 tahun. Diakui bahwa pipa itu di bawah standar keamanan minimum.Pipa yang bocor itu memiliki ketebalan 10 milimeter saat dipasang pada tahun 1976. Namun kini setelah diukur hanya memiliki ketebalan 1,4 milimeter -- jauh di bawah standar keamanan minimum yang legal, yakni 4,7 milimeter."Kami melakukan inspeksi visual, namun tidak pernah melakukan tes ultrasonik, yang bisa mengukur ketebalan pipa baja," ujar seorang juru bicara perusahaan Kansai Electric Power, Haruo Nakano."Kami bertanggung jawab atas kendurnya manajemen inspeksi data pembangkit," tukas manajer pengendalian kualitas Koji Ebisuzaki, seperti dikutip dari AFP, Selasa (10/8/2004).Peristiwa ini merupakan musibah terburuk yang menimpa pembangkit listrik nuklir di negeri Sakura itu. Tubuh empat korban tewas dalam keadaan mengenaskan dengan luka-luka bakar yang serius. Pihak operator menegaskan tidak terjadi radiasi dalam kecelakaan mematikan di Mihama, Perfektur Fukui, sekitar 320 kilometer timur Tokyo itu.Kejadian ini merupakan pukulan baru terhadap kredibilitas industri nuklir Jepang, yang telah dilanda beberapa insiden serupa pada tahun-tahun sebelumnya. Termasuk kebocoran radiasi di pabrik proses bahan bakar di Tokaimura, tahun 1999 silam. Insiden itu menewaskan dua pekerja dan menyebabkan ratusan orang terkena radiasi. Serta mengharuskan pemerintah mengevakuasi ribuan penduduk lokal.
(ita/)











































