Psikolog forensik Universitas Bina Nusantara Reza Indragiri Amriel sempat menyarankan agar Lapas dan Rutan dibekali dengan x-ray, anjing pelacak, pengacak sinyal ponsel dan program detoksifikasi bagi para pemakai. Penggunaan teknologi tersebut diharapkan bisa mencegah narkoba ke dalam sel.
Dari usulan di atas, ada beberapa hal yang sudah dijalankan. Namun pada kenyataannya, ada saja kendala yang dihadapi para jajaran Ditjen Lapas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Perawatannya sebulan Rp 8 juta, kita mana sanggup. Kalau sebelumnya mencium narkoba, sekarang dia malah mencium ikan asin," kata Karutan Batam, Anak Agung Gde Krisna, saat ditemui di kantornya, Batam, Kepri, Kamis (12/4/2012).
Sementara untuk x-ray, Agung mengakui belum cukup anggaran untuk menghadirkan barang tersebut. Yang bisa dia lakukan saat ini adalah menggeledah sedetil mungkin dan melakukan sidak rutin serta insidentil.
"Kita cuma penjaga 7 orang, sementara napi ada 429 orang," terangnya.
Kabiro Humas Kemenkum HAM Martua Batubara menambahkan, alat pengacak sinyal juga pernah diprogramkan di beberapa lapas dan rutan. Namun pada kenyataannya, keberadaan alat pengacak itu malah diprotes oleh warga sekitar.
"Jadi kita bingung, mau pakai pengacak malah diprotes warga," keluhnya.
Meski dengan sejumlah dilema, baik Agung maupun Martua tetap siap membantu BNN dalam membasmi narkoba. "Kita selalu siap, nggak pernah ada kata menyerah karena keadaan," imbuhnya.
(mad/aan)











































