Sudah sejak akhir 2011 pemerintah Belanda mengangkat Dubes Matthijs van Bonzel untuk mengemban misi perwakilan di Kedubes Belanda di Bukarest, namun hingga hari ini Dubes Van Bonzel belum berhasil menyerahkan surat-surat kepercayaannya kepada Presiden Rumania Traian Basescu.
Penolakan Presiden Basescu untuk menerima surat-surat kepercayaan Dubes Belanda itu dipandang sebagai isyarat bahwa Rumania sangat serius menanggapi sikap penolakan Belanda atas rencana bergabungnya negara itu ke dalam kawasan bebas visa, Schengen.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Situasi ini mengundang parlemen Belanda, dimotori oleh Partai Buruh, untuk bereaksi kepada pemerintah melalui Deputi Menlu Ben Knapen bahwa "situasi ini sangat tidak wajar, yang tak bisa dijelaskan lain selain sebagai sinyal politik," demikian seperti dilansir NRC Handelsblad, Selasa (10/4/2012).
Partai Buruh menanyakan apakah hubungan yang memburuk ini tidak "luarbiasa tak diharapkan", baik untuk posisi internasional Belanda maupun untuk hubungan ekonomi Belanda dengan Rumania. Belanda diketahui sebagai salah satu investor terpenting di Rumania.
Bahkan Ketua Kadin Belanda-Rumania Peter de Ruiter kepada kantor berita ANP mengatakan bahwa situasi ini tak bisa diterima dan menghambat fungsi Van Bonzel sebagai Dubes. "Hubungan yang membeku juga menyebabkan banyak kerugian bagi dunia usaha Belanda," ujar De Ruiter.
Kedatangan Dubes baru Rumania untuk Den Haag juga 'digantung', walaupun nama Dubesnya sudah beredar luas di Bukarest. Kementerian Luar Negeri Rumania tidak bersedia menanggapi isu ini lebih mendalam.
Sebelum situasi yang menjerat Dubes Van Bonzel itu mencuat, pemerintah Belanda juga baru-baru ini direpotkan oleh inisiatif partai mitra koalisi PVV pimpinan Wilders, yang memunculkan website anti Polandia.
(es/es)











































