Penetapan capres yang sedianya dilakukan dalam rapat pimpinan nasional (Rapimnas) bulan Oktober pun dipercepat menjadi awal Juli 2012. Keputusan ini diambil Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Golkar atas desakan DPD yang mengingikan pengukuhan Ical sebagai capres segera dilakukan.
Elite Golkar mengakui percepatan Rapimnas menjadi Rapimnas khusus dilakukan untuk menghindari adanya calon selain Ical yang berambisi menjadi calon presiden. Sementara Ical terang-terangan meminta Jusuf Kalla, mantan Ketum Golkar untuk menggunakan kendaraan politik selain Golkar bila berniat mencalonkan diri di Pilpres.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Persepsi sebagai pemimpin yang tegas sudah menjadi top of mind dari pemilih terhadap JK. Sementara Ical, memiliki kekuatan dalam melakukan lobi dan negosiasi politik," kata Arya kepada detikcom, Rabu (11/4/2012).
Kedua, medium kampanye. Ical memiliki kekuatan dalam penguasaan sumber informasi yang disokong jaringan media yang kuat. "Sementara JK, meski tidak menguasai atau memiliki jaringan media yang kuat, JK berhasil mendapatkan citra positif di media," lanjutnya.
Paramater ketiga terkait penerimaan publik atas kedua tokoh Golkar tersebut. JK sebut Arya relatif tidak memiliki sentimen negatif dari publik. "Keberhasilan JK dalam menyelesaikan konflik-konflik di beberapa daerah dan mengatur ritme dalam pemerintahan serta gaya kepemimpinan yang cepat menjadi nilai positif sendiri bagi publik," ujarnya.
Sementara Ical seakan tersandera dalam hal penyelesaian Lapindo. "Tapi Ical berhasil memberikan warna baru bagi Golkar dengan mempersepsikan Golkar sebagai partai rakyat," sebut Arya.
Dia menambahkan skenario pencapresan Golkar akan dipengaruhi oleh mekanisme pemilihan Capres. Bila mekanisme pemilihan capres dilakukan melalui rapimnas, Ical diyakini akan tampil sebagai kandidat terkuat.
Akan tetapi bila keputusan capres didasarkan pada hasil survei atau konvensi, JK akan menjadi lawan berat bagi Ical. "Tidak mudah bagi Ical untuk melenggang mulus," pungkasnya.
Selain itu, JK masih berpeluang menjadi capres karena memiliki loyalis di internal Golkar. "Pengalaman JK sebagai wakil presiden juga memberikan nilai tambah," kata Arya.
(fdn/rvk)











































