Sejumlah elite Partai Demokrat bungkam terkait bocornya pidato Susilo Bambang Yudhoyono pada 1 April dalam acara internal di kantor DPP PD. Anggota dewan pembina, Syarief Hasan, menyebut pidato SBY hanya berisi pengarahan agar kader partai tetap solid.
"Inti pidato itu hanya pengarahan untuk kader," kata Syarief Hasan, di kediamannya, Jl Widya Chandra, Jakarta, Selasa (10/4/2012) malam.
Menurutnya, dalam pidato tersebut tidak membahas soal kenaikan BBM yang berujung penjatuhan SBY. Ia juga menepis bahwa pidato tersebut menggunjing parpol lain.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sependapat dengan Syarief, Ketua Fraksi PD non-aktif, Jafar Hafsah, mengaku pidato tersebut membahas kinerja kader PD. Ia pun menyangkal jika pidato tersebut menyinggung ulah parpol koalisi di antaranya Golkar.
"Tidak ada soal itu. Dalam pidatonya, SBY mengucapkan terima kasih kepada kader, karena telah memperlihatkan hasil kerja dengan baik," ungkapnya.
Dalam pidatonya, SBY menegaskan materi opsi kedua yakni penambahan ayat 6 A dalam Pasal 7 RUU APBNP 2012 merupakan idenya, bukan ide Golkar. Dalam ayat tambahan itu, pemerintah diberikan kewenangan menyesuaikan harga BBM bersubsidi jika harga minyak mentah Indonesia (ICP) di atas 15 persen dari asumsi ICP pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2012 yakni USD 105 per barel.
"Jadi itu bukan ide Golkar, dan kami bermain 15 persen, meskipun saya tahu Demokrat masih patuh pada banggar, jadi 15 persen bukan monopoli dan ide Golkar," tegas SBY.
SBY juga menyebut penolakan kenaikan harga BBM tak lebih dari upaya untuk menjatuhkan pemerintahannya. "Yang tidak setuju kenaikan BBM, bukan untuk rakyat, tapi supaya SBY dan pemerintahannya jatuh," ucapnya.
(rvk/fdn)











































