SBY Ajak Ical Baca Al-Fatihah Sebelum Paripurna APBN-P 2012

SBY Ajak Ical Baca Al-Fatihah Sebelum Paripurna APBN-P 2012

Ahmad Toriq - detikNews
Selasa, 10 Apr 2012 21:22 WIB
SBY Ajak Ical Baca Al-Fatihah Sebelum Paripurna APBN-P 2012
Jakarta - Pidato SBY di depan pengurus teras DPP Partai Demokrat (PD) 1 April 2012 lalu, bocor. Dalam pidato itu SBY menyebut mengajak Ketum Partai Golkar, Aburizal Bakrie untuk berdoa sebelum rapat paripurna penetapan APBN-P 2012 digelar.

"Saya telepon Pak Ical yang masih ada di Papua. Dari situ eh saya putuskan sebentar lagi, berikan waktu dulu pada saya, saya ingin mengajak berdoa agar tidak salah keputusan," kata SBY dalam pidato yang disampaikan pada 1 April 2012 lalu sebagaimana dalam rekaman pidato yang beredar di wartawan, Selasa (10/4/2012).

Keputusan itu, lanjut SBY, akan disampaikan ke DPR. "Saya mengajak membaca Al-Fatihah. Karena sama-sama agama Islam, serahkan pada Allah. Dalam keadaan seperti ini pertolongan Tuhan yang kita harapkan, dan pertolongan itu sungguh datang," imbuhnya.

Kemudian SBY mengatakan dirinya memutuskan untuk menyampaikan dua opsi. Dalam kesempatan itu, Ical sudah menyampaikan persetujuannya. SBY menilai PDI Perjuangan sepertinya tidak siap dengan voting sehingga memilih walk out. Sedangkan sikap PKS juga seperti yang sudah diprediksi. Namun dia bersyukur karena rapat tersebut berakhir baik.

"Baiknya apa? Dengan APBN-P baik itu menyangkut asumsi ataupun postur berapa penerimaan, berapa pembelajaan, berapa defisit itu relatif aman. Kalau lebih 3 persen langgar UU, kalau asumsi tidak diubah tidak akan bisa kita capai misal 6,7 persen," tutur SBY dengan nada bahagia.

Dia menyampaikan sengan amandemen pasal 7 ayat 6a RUU APBN-P 2012, maka pemerintah diberikan kewenangan untuk setiap saat melakukan penyesuaian harga apabila ada selisih harga 15 persen atau lebih dalam 6 bulan berturut-turut. Hal ini jelas merupakan legitimasi dan legalitas atas apa pun keputusan pemerintah terkait harga bahan bakar minyak.

"Sebenarnya sebagaimana pidato saya, itu bukan luar biasa. Dari dulu juga begitu. Negara lain juga begitu, periode presiden lain juga. Sejak Pak Harto sampai dengan sekarang bahan bakar kita sudah naik 38 kali. Gus Dur juga naikkan, Bu Mega juga naikkan. Tapi tidak ada satu pun presiden yang pernah menurunkan kecuali kita," tutur SBY.


(/asy)


Berita Terkait