Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Rikwanto mengatakan keberadaan geng motor di Jakarta tumbuh-hilang dengan sendirinya.
"Jadi sejak beberapa waktu lalu muncul lagi balap liar atau komunitas ini sehingga meresahkan pengguna jalan. Kita tingkatkan patroli di beberapa tempat yang rawan aksi balap liar," kata Rikwanto kepada wartawan, Selasa (10/4/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tidak hanya patroli penjagaan, jadi mobil patroli berhenti sehingga mereka tidak melakukan hal-hal aneh," ujarnya.
Ia menambahkan, komunitas geng motor tumbuh karena perikatan hubungan antar masing-masing individu dalam kelompok tersebut.
"Ini ke tumbuh hilang sendirinya, jadi keterikatan mereka hanya pertemanan, senasib, karena punya musuh bersama. Saat keterkaitan itu hilang, hilang sendirinya, apakah polisi perlu sambang, perlu," katanya.
Contoh kasus, aksi kebrutalan geng motor terjadi pada Jumat (6/4) dini hari lalu. Seorang warga di Pondok Indah, Kebayoran Lama, Jaksel bernama Rahmad Gunawan meregang nyawa setelah dikeroyok oleh sejumlah pemuda bermotor. Aksi tersebut dilakukan karena dendam pelaku terhadap korban.
Minggu (8/4) dini hari lalu, empat orang warga dikeroyok oleh sekitar 30 pemuda berambut cepak di Jalan Benyamin Sueb, Kemayoran, Jakpus. Kelompok yang menumpang 15 motor lebih ini juga melakukan aksi pembakaran motor.
Kemudian pada Sabtu (7/4) lalu, empat orang remaja, satu di antaranya tewas dengan kondisi mata tertusuk di SPBU Shell, Jalan Danau Sunter, Jakarta Utara. Mereka dikeroyok oleh lebih dari 15 orang pemuda berbadan tegap dan berambut cepak yang ditengarai polisi merupakan anggota geng motor.
(mei/rmd)










































