Versi sipir lapas berbeda dengan keterangan Denny Indrayana sehingga dibentuklah TPF oleh Menkumham Amir Syamsuddin. Hingga saat ini TPF yang diketuai Irjen Kemenkkumham Sam Tobing masih terus bekerja menemukan fakta yang sebenarnya.
Sementara TPF bekerja, Setkab juga merilis kronologis kejadian yang berlangsung tanggal 2 April 2012 ini. Berikut ini rilis yang diterima detikcom, Sabtu (7/4/2012):
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berikut kronologis sidak Satgas Pemberantasan Narkoba di Lapas Pekanbaru, Senin dinihari, 2 April 2012:
1. Sekitar pukul 02.30 WIB dinihari, rombongan Satgas Pemberantasan Narkoba sampai di depan pintu pagar masuk Lapas Pekanbaru. Pintu pagar dikunci. Diputuskan untuk melompati pagar.
2. Wamenkumham dan rombongan Satgas Pemberantasan Narkoba menuju pintu gerbang masuk lapas. Bel klenengan dibunyikan dan mengetuk pintu. Butuh waktu beberapa saat sebelum ada suara sipir menanyakan siapa yang datang. Dijawab, “Saya Denny Indrayana, Wamen. Cepat buka pintu”. Lubang intip pada pintu dibuka, sipir dari dalam melihat kemudian ditutup kembali. Wamenkumham berdiri persis di depan lubang intip, agar terlihat. Pintu tetap tidak dibuka. Sehingga digedor sambil mulai berteriak meminta pintu segera dibuka.
3. Setelah lebih kurang lima menit, pintu baru dibuka. Rombongan masuk ke dalam, Wamenkumham menegur sipir yang membuka pintu, “Kenapa lama sekali membuka pintunya”. Ajudan pengaman Wamenkumham, melihat reaksi melawan dari sipir, lalu menendang sipir pembuka pintu. Seorang sipir lain di ruang jaga ditendang dan dipukul ajudan. Wamenkumham berteriak, “Hentikan. Hentikan jangan diteruskan. Berhenti.”
4. Wamenkumham mendatangi sipir jaga yang lain, meminta semua HP petugas segera dikumpulkan, menanyakan berapa orang yang jaga, serta meminta tolong agar sidak dinihari itu dibantu kesuksesannya. Kunci lapas diambil, untuk kemudian terjadi proses penggerebekan kepada tiga napi target operasi dari ruang selnya masing-masing, dilanjutkan proses penggeledahan. Ketiga target napi itu adalah Djufriado Tanjung, Husin dan Luku. Dari hasil penggeledahan di tiga sel napi ditemukan banyak HP, alat isap shabu, plastik pembungkus bekas shabu, dan lain-lain.
5. Selama menunggu proses, Wamenkumham beberapa kali mengumpulkan petugas lapas untuk menjelaskan maksud sidak pemberantasan narkoba tersebut. Wamenkumham juga menanyakan bagaimana kondisi petugas yang terkena pukul dan tendangan. Salah satu petugas menunjukkan tangan kirinya yang luka tergores. Wamenkumham meraba luka itu, dan meminta maaf. “Saya minta maaf ya. Mohon lain kali, jangan terlambat membuka pintu”. Dijelaskan bahwa dalam sidak pemberantasan narkoba, tidak boleh terlambat, karena bisa menghilangkan barang bukti.
6. Sekitar waktu sholat shubuh, napi yang menjadi target operasi dan semua sipir sempat dites urin. Ada sipir yang kesulitan buang air kecil hingga harus beberapa kali minum dulu. Tes urin lengkap belum diketahui hasilnya, tetapi beberapa diindikasikan positif memakai narkoba.
7. Sebelum pulang, Wamenkumham kembali mengumpulkan para sipir. Berusaha kembali mengangkat semangat dan moral mereka, untuk tetap melaksanakan tugas dengan baik. “Saya pamit dulu ya. Maaf telah mengganggu istirahatnya. Sekali lagi, saya meminta maaf atas pemukulan dan penendangan tadi.” Wamenkumham kemudian menyalami satu-persatu seluruh sipir Lapas.
8. Menjelang pintu keluar, beberapa sipir menanyakan nasib salah seorang rekannya yang ikut ditangkap BNN. Beberapa sipir meminta, agar rekannya tidak ikut ditangkap BNN. Wamenkumham menjelaskan bukti-bukti keterlibatan sipir tersebut dalam jaringan narkoba yang diciduk dinihari itu, dan meminta para sipir menyerahkannya kepada proses hukum.
9. Sekitar pukul 6:30 Rombongan Satgas Pemberantasan Narkoba meninggalkan Lapas Pekanbaru. BNN menciduk tiga narapidana Jufri Tanjung, Husin dan Luku; serta satu orang sipir.
(gah/gah)










































