4 Bule Jadi Saksi Umar Patek, Ditanya Kejanggalan Sebelum Bom Bali I

4 Bule Jadi Saksi Umar Patek, Ditanya Kejanggalan Sebelum Bom Bali I

Dhurandhara HKP - detikNews
Kamis, 05 Apr 2012 11:46 WIB
4 Bule Jadi Saksi Umar Patek, Ditanya Kejanggalan Sebelum Bom Bali I
Jakarta - 4 Saksi bule dari Australia dan Amerika Serikat (AS) dihadirkan jaksa penutut umum (JPU) untuk terdakwa Bom Bali I, Umar Patek. Mereka dicecar seputar kejanggalan sebelum bom meledak.

Pantauan detikcom di Pengadilan Negeri Jakarta Barat (PN Jakbar) Jalan S Parman, Jakarta, Kamis (5/4/2012), 4 bule yang dihadirkan itu adalah WN AS Steven William Cabler dan 3 WN Australia Jason Paul McCartney, Peter Huges, dan Stewart Anstie.

Dalam bersaksi, mereka dibantu 2 penerjemah laki-laki. Majelis hakim yang diketuai Encep Yuliardi pun tetap bertanya dalam bahasa Indonesia. Mereka dicecar seputar kejanggalan sebelum kejadian. Steven William Cabler mendapat giliran pertama.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hakim bertanya sedang apa saat terjadi ledakan Bom Bali. Cabler menjawab sedang berada di Sari Club bersama dua temannya, John, WNI, dan Steven, WN AS yang merupakan sahabat Cabler sejak kecil.

"Pada waktu kejadian, saya sudah tidak melihat John lagi, ketika ada ledakan, kepala saya dengan kepala Steven terantuk dengan keras. Dan kemudian saya melihat Steven terjatuh dan tertimpa atap. Saya hendak menolongnya tapi karena di situ banyak api dan asap, terlalu panas jadi saya tidak bisa menolonghnya. Steven dan John meninggal," cerita Cabler yang mengenakan kemeja biru dan celana kain coklat ini.

Hakim bertanya kembali mengenai hal yang dilihat sebelum kejadian Bom Bali I. Cabler mengatakan saat malam sebelumnya dirinya di Bounty's Club.

"Saya sedang ngobrol dengan salah satu warna negara Jerman, perempuan. Tiba-tiba ada 4 orang lelaki yang menghampiri saya. Salah satu lelaki itu kemudian meludah ke saya. Kemudian berkata kasar seperti f**k you, f**k America, f**k George Bush, dan dia mengatakan saudara saya banyak yang di Afghanistan. Kenapa kalian menyerang Saddam Hussein. Dari kejadian itu saya merasa ada yang aneh, saya merinding," kata Cabler.

Sedangkan JPU yang diketuai jaksa Bambang Heriyadi bertanya apakah Cabler melihat hal yang janggal pada hari H sebelum kejadian.

Cabler bercerita, sebelum ke Sari Club, bersama John dan Steven, dirinya mampir dulu ke Cirkle-K terdekat. Di Circle-K, imbuh Cabler, ada pesta. Pengeras suara dipasang dan pengunjung bisa minum-minum bir di depannya.

"Nah tiba-tiba ada sedan Acura hitam yang lewat dengan kaca belakang terbuka, lalu tiba- tiba ada seorang pria yang menujulurkan kepalanya. Dia berteriak-teriak dan menuding ke arah si John, dengan nada marah," jelas Cabler yang berprofesi sebagai musisi ini.

"Saya kemudian bertanya ke John, apa yang menyebabkan dia marah, apakah dia punya masalah dengan kamu? Si John menjawab, saya tidak punya masalah dengan orang-orang di sini," lanjut dia sambil menambahkan John tidak tahu apa yang diucapkan orang di sedan Acura hitam itu.

(nwk/nrl)


Berita Terkait