Penggusuran, Kampanye Hitam buat Megawati
Senin, 09 Agu 2004 18:33 WIB
Jakarta - Anggota Biro Hukum dan Advokasi Mega Center, Dwi Ria Latifa, menengarai ada upaya pembusukan dan kampanye hitam (black campaign) terhadap Megawati Soekarnoputri menjelang pilpres putaran kedua. Kondisi ini dapat dilihat dari berbagai kebijakan pemerintah daerah yang melakukan penggusuran secara hampir serentak di berbagai daerah dan mendapatkan ekspos yang besar-besaran dari media massa."Ketika Ibu ke Mekkah (umroh), tiba-tiba di berbagai daerah banyak terjadi penggusuran. Kondisi semacam ini kita cermati dan kita waspadai ada apa atau ini grand design siapa?" kata Dwi Ria Latifa di kantor Mega Center, Jl. Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (9/8/2004).Menurut anggota Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (F-PDIP) DPR tersebut, berbagai kejadian itu seolah mengingatkan pada sejarah PDIP yang selalu dipojokkan pada masa lalu. Ia mencontohkan seperti kasus penggusuran pedagang kaki lima di Makassar dan pedagang Pasar Tanah Abang."Ini sepertinya kembali pada pola-pola lama. Jadi ibarat pepatah orang Melayu, tidak ada angin tidak ada ribut, kok tiba-tiba ada gejolak? Kita akan mencermati ini. Kesimpulan sementara, ada kecurigaan itu dilakukan pihak-pihak tertentu," papar Dwi Ria.Ketika ditanya apakah aksi itu dilakukan lawan politik Megawati? "Kita tidak boleh berburuk sangka. Walaupun kita yakin ada kekhawatiran yang kuat menjelang pilpres dengan dilancarkannya kampanye negatif seperti ini," jawab wanita yang juga berprofesi sebagai pengacara ini.Selain penggusuran, menurut Dwi Ria, persidangan gugatan Wiranto-Wahid oleh Mahkamah Konstitusi juga dipandang sebagai upaya pembusukan terhadap Megawati. "Meskipun awalnya karena adanya perasaan ketidakpuasan, tapi itu kan berkembang kemana-mana," ujarnya tanpa merinci lebih jauh.Dwi Ria juga menilai, berbagai kasus tersebut sangat merugikan kubu Megawati, apalagi mengingat posisinya saat ini sebagai presiden. Sementara, kasus-kasus seperti penggusuran itu merupakan wewenang pemerintah daerah.
(ani/)











































