Ada Penyumbang Fiktif ke Tim Mega dari Boyolali
Senin, 09 Agu 2004 15:30 WIB
Solo - Jika keseluruhannya benar, maka cukup fantastis kemampuan warga Boyolali. Dari kesuluruhan penyumbang dana bagi Tim Kampanye Mega Hasyim (TKMH) terdapat 24 nama yang berasal dari Kabupaten Boyolali dengan total sumbangan hampir Rp 2 miliar. Namun ternyata satu orang dipastikan cuma dicatut nama alias fiktif.Data yang diberikan Panwaslu Jateng kepada Panwaslu Boyolali menyebutkan jumlah sumbangan warga Boyolali cukup variatif. Ada seorang yang menyumbang Rp 25 juta, Rp 35 juta (1 orang), Rp 50 juta (2 orang), Rp 60 juta (1 orang), Rp 70 juta (1 orang), Rp 75 juta (2 orang), Rp 85 juta (2 orang), Rp 90 juta (2 orang), Rp 95 juta (1 orang), Rp 99 juta (2 orang), Rp 100 juta (9 orang). Total keseluruhan dana sumbangan 24 nama yang ditulis sebagai warga Boyolali ke TKMH itu adalah Rp 1.983.000.000. Panwaslu Boyolali saat ini mengaku tengah melakukan pelacakan mengenai kesahihan angka-angka sumbangkan serta kemungkinan adanya nama fiktif. Seluruh nama yang tertulis akan dilacak untuk dilakukan verifikasi tentang kebenarannya.Namun baru delapan orang yang didatangi, ternyata hanya ditemukan satu nama yang dengan tegas mengeluarkan sumbangan. Orang tersebut adalah Maryono yang namanya ditulis sebagai penyumbang ke-415 di TKMH dengan sumbangan Rp 100 juta. Tertulis, warga Tagung Cilik RT 14 RW 04, Karanganyar, Musuk, Boyolali, itu menyumbang pada tanggal 29 Juni 2004 lalu."Setelah kami datangi, memang benar di alamat itu ada nama Maryono. Dia Sekdes Karanganyar, Musuk. Dia dengan tegas menolak disebut penyumbang karena dalam pengakuannya memang dia tidak menyumbang dan tidak tahu-menahu tentang hal itu," ujar anggota Panwaslu Boyolali, Muh Zumar Aminuddin kepada wartawan di Boyolali, Senin (9/8/2004).Lain di Boyolali lain pula dengan di Solo. Dalam daftar yang nama-nama penyumbang ke TKMH itu terdapat empat nama yang beralamat di Solo, dengan sumbangan masing-masing Rp 100 juta. Meskipun cuma ada empat nama dengan alamat yang jelas, Panwaslu Solo mengaku belum selesai melakukan verifikasi. "Baru kami teliti dulu, hasilnya menyusul," kilah anggota Panwaslu Solo, Imron Rosyid.
(nrl/)











































