Badan Narkotika Nasional (BNN) mencokok satu sipir dan 3 napi Lapas Kelas IIA Pekanbaru karena terindikasi terlibat dalam peredaran narkotika. Keterlibatan oknum petugas penjara lainnya terus diselidiki.
"Masih terus berkembang, kemungkinan waktu dekat terus berkembang baik dari oknum petugas atau tersangka sendiri," kata Plt Deputi Pemberantasan BNN, Brigjen Pol Benny Joshua Mamoto, usai melakukan penggerebekan Lapas Kelas IIA Pekanbaru, Senin (2/4/2012).
Dalam operasi tersebut BNN menangkap seorang sipir, K (53), dan 3 napi, YSP (32), JT (31), serta Hus (33), yang terlibat peredaran dan pengendalian narkotika di dalam lapas. Sehari sebelumnya BNN mencokok 3 tersangka di luar Lapas, Am (36), Ba (33), dan Mud (32).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Barang haram tersebut rupanya masuk dari Malaysia melalui jalur laut dengan menggunaka kapal cepat untuk sampai ke Indonesia. Dari penyelidikan BNN, barang tersebut dikemas di dalam kaleng makanan guna mengecoh pemeriksaan petugas.
"Sabu masuk dari Malaysia dikemas sedemikian rupa dalam dus kaleng roti, sehingga kalau kami tidak teliti maka kita akan terkecoh," ujar Benny.
Penggerebekan ini terjadi pada Senin (2/4/2012) sekitar pukul 01.00 WIB. Para petugas jaga Lapas Kelas IIA Pekanbaru dikejutkan dengan kehadiran Wamenkum HAM Denny Indrayana dan puluhan anggota BNN bersenjata lengkap yang dipimpin langsung Benny Joshua Mamotto.
Sebagian petugas siaga di halaman Lapas sementara sisanya melakukan penyisiran di setiap sudut blok penjara yang menampung 1.349 penghuni, baik itu napi atau tahanan.
Dari tangan ketiganya didapati 8 ons sabu yang dikemas dalam plastik kecil dengan berat tiap plastik 1 ons. Dari tertangkap tangannya tiga tersangka tersebut diketahui bila kristal haram tersebut dipasok ke dalam penjara.
JT diketahui berperan sebagai pengendali dan dibantu 2 napi lainnya yang menangani peredaran sabu di balik jeruji besi. Sementara K, sipir lapas, berperan sebagai penerima sabu dari luar dan kemudian mendistribusikannya ke dalam penjara.
Di dalam perbincangan dengan detikcom dalam perjalanan menuju Jakarta, salah seorang tersangka yang berperan sebagai kurir, Ba (32), mengaku menyesal.
"Saya hilaf, tidak tahu kalau teman saya (Am) bawa sabu," kata Ba yang duduk dengan tangan terborgol.
Pria asal Aceh ini mengaku dia hanya mengikuti ajakan rekannya untuk pergi ke Pekanbaru mencari kerja. Namun di tengah perjalanan aparat yang telah membuntuti mereka melakukan penyergapan.
"Anak saya baru 13 bulan, saya tidak tinggalkan uang sama sekali ke istri saya," katanya memelas.
Ba digiring ke Jakarta untuk kepentingan pengembangan kasus bersama tersangka lainnya.
(/)











































