"Jika PKS konsisten untuk keluar dari kekuasaan, justru akan menaikkan popularitas elektoralnya, karena tidak akan dianggap pragmatis dan menjalankan strategi dua kaki," kata pengamat politik Gun Gun Heryanto kepada detikcom, Senin (2/4/2012) malam.
Menurut dia, publik kini menunggu konsistensi PKS. Alasannya, PKS kerap berseberangan sikap dengan koalisi termasuk berbeda pandangan terhadap kebijakan pemerintah yang persetujuannya melalui DPR.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keuntungan pencitraan dan kepercayaan publik ini tidak akan didapat PKS bila tetap menjalankan standar ganda. Berada di koalisi tapi sering mengambil posisi oposisi. "Lambat tapi pasti akan mempengaruhi respek publik sekaligus popular vote mereka di Pemilu," pungkasnya.
Seperti diketahui, saat voting dalam paripurna Sabtu (31/3), PKS memilih berbeda sikap dengan menolak penambahan ayat 6 A dalam Pasal 7 yang memberi kewenangan bagi pemerintah menyesuaikan harga BBM bersubsidi.
Keputusan ini kemudian menyulut kemarahan kader Demokrat. Elite partai berlambang mercy itu bahkan meminta PKS segera 'angkat koper' dan menarik tiga kadernya dari kursi menteri.
(fdn/tor)











































