"Melihat lukanya sepertinya disiramkan. Sebab kalau ditembakkan maka pancurannya akan beda. Sempat muncul spekulasi mungkin tidak disemprotkan oleh water cannon, kalau pakai water cannon pasti yang kena lebih banyak lagi," tutur ahli DNA forensik, dr Djaja Surya Atmadja dalam perbincangan dengan detikcom, Senin (2/4/2012).
dr Djaja menduga cairan asam itu dibawa dalam wadah yang terbuat dari plastik atau wadah kecil lainnya yang tidak mencurigakan. Yang jelas wadah yang digunakan untuk membawa cairan ini tidak terbuat dari logam. Sebab asam ini bisa bersifat korosif. Karena itu tidak mungkin pula ditaruh di water cannon.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Luka para korban, imbuh dia, mirip semua. Mendengar cerita dari wartawan JakTV, Ananto Handoyo, bahwa dia terkena di sisi kanan maka bisa diketahui asal siraman dari arah massa pendemo.
"Dengar cerita wartawan JakTV, kena di sisi kanan. Kanan itu demonstran, kiri polisi dan jarak 20 meter water cannon," imbuh dr Djaja.
Penyiraman cairan asam sudah kerap terjadi. Apalagi cairan ini relatif mudah didapat. Namun kasus sebelumnya adalah kasus individual seperti suami menyiram istri dengan cairan kimia.
"Tujuannya untuk bikin sakit dan cacat. Kalau dalam konsentrasi besar memang bisa membuat cacat," lanjut dr Djaja.
Ananto Handoyo dan 5 orang lainnya yang terkena cairan kimia saat demo anti kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), pada Jumat (30/3/2012) di depan gedung DPR. Wajah Ananto saat ini masih luka parut akibat cairan itu.
(vit/nwk)











































