"Nah, supaya jangan terlalu serius saya ingin menjawab, PDIP dengan NU itu sepertinya berbeda. Tetapi sebetulnya sudah pernah ketemu dan sejalan. Saya ingat, sahabat saya KH Abdurrahman Wahid almarhum, selalu mengajak saya keliling. 'Mbak Mega ayo kita jalan. Saya ingin mengenalkan kehidupan di kalangan NU. Seperti apa orang NU itu'," tutur Mega menirukan Gus Dur.
Hal itu disampaikan Mega di hadapan 150 orang dalam peringatan HUT ke-5 Baitul Muslimin Indonesia (BMI) di kantor DPP PDIP, Jalan Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Kamis (29/3/2012). BMI merupakan organisasi sayap PDIP yang bergerak di bidang keagamaan.
Acara ini dihadiri sejumlah tokoh seperti Ahok, cawagub yang disokong PDIP-Gerindra. Sedangkan tokoh PP Muhammadiyah yang datang adalah mantan Mendiknas Bambang Sudibyo dan dari PB Nahdlatul Ulama (PBNU) diwakili Sekjen Masyhudi Suhud.
Nah, Gus Dur bercerita, ada pengurus NU dan PDIP bertemu usai kampanye Mega. Gus Dur menggambarkan orang NU yang masih tradisional.
"Bagaimana kampanye Bu Mega?" tanya pengurus PDIP pada pengurus NU.
"Iya bagus. Uapik tenan, siteris," jawab pengurus NU.
"Siteris iki opo? Histeris kali," jawab pengurus PDIP itu meluruskan.
Cerita lain, orang NU datang ke suatu kantor cabang PDIP dan bertanya sambil menunjuk komputer, "Bagaimana eternitmu?"
"Internet kali," jawab pengurus PDIP yang ditirukan Mega, kemudian disambut dengan geerrr!
Kenangan Mega berjalan-jalan dengan Gus Dur ini menimbulkan rasa penasaran bagaimana bila dirinya diajak jalan-jalan oleh tokoh Muhammadiyah.
"Saya memang dari tadi mendengar kata sambutannya, saya tersenyum dan tertawa kecil karena sangat jelas kalau yang berbicara dari NU, mesti ada humornya. Tapi kalau dari Muhammadiyah selalu serius. Jadi kalau saya diajak sama Muhammadiyah jalan, saya nanti jadi orangnya pasti serius. Saya belum pernah lho diajak jalan-jalan sama Muhammadiyah," tutur Mega.
Mega pun bersyukur bahwa NU dan Muhammadiyah bisa bersatu di Baitul Muslimin Indonesia.
"Tapi memang yang saya syukuri dalam hari ulang tahun ini bahwa konkretnya Pengurus Besar atau warga NU atau dengan pengurus pusat atau masyarakat Muhammadiyah dapat bersatu di Baitul Muslimin. Jadi ini suatu kehormatan dan kebanggaan bagi PDIP karena dapat membawa syiar Islam itu," tutur putri sulung Bung Karno ini.
Pengurus Pusat BMI masa bakti 2010-2015 adalah Dewan Pembina: Megawati, Syafi'i Ma'arif, Taufiq Kiemas adn Said Agil Siradj. Sedangkan Dewan Penasihat adalah Mayjen Purn Cholid Ghozali dan Sekretaris Achmad Basarah.
(nwk/nrl)











































