Perempuan dan Anak Paling Menderita Akibat Kenaikan Harga BBM

Perempuan dan Anak Paling Menderita Akibat Kenaikan Harga BBM

- detikNews
Kamis, 29 Mar 2012 10:25 WIB
Jakarta -
Ketika harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dinaikkan, dampak yang terjadi ibarat efek domino, akan berujung pada rembetan kenaikan harga berbagai hal mulai dari biaya transportasi, sembako, juga kebutuhan harian lainnya. Tetapi di ujung itu semua, perempuan dan anaklah yang akan merasakan derita paling awal dan paling berat.

Menurut anggota Komisi VIII DPR Ledia Hanifa Amaliah, perempuan dalam hal ini istri dan ibu, umumnya mengatur dan mengelola keuangan rumah tangga. Ibarat menata APBN, dengan anggaran yang ada, kenaikan harga sayur mayur, beras, minyak, telur, biaya transport, bahan sandang dan kemungkinan juga biaya jasa, para ibu ini akan mengambil jalan paling mudah, memangkas kualitas dan kuantitas makanan di dalam rumah.

"Kalau makanan dalam keluarga terkurangi jumlah dan kualitasnya, siapa yang berkorban paling dulu? Umumnya kaum ibu. Dan siapa yang terkena efek paling buruk? Anak, utamanya balita," kata Ledia dalam rilisnya, Rabu (28/3).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Padahal, Ledia mengingatkan, jumlah perempuan yang sekitar 118 juta dan anak usia balita yang sekitar 22 juta merupakan lebih dari separuh total penduduk Indonesia yang 237 juta jiwa. Bila kondisi kecukupan dan kelengkapan gizi yang mereka asup tidak terpenuhi, dapat dibayangkan betapa suramnya kondisi masyarakat Indonesia ke depannya.

"Balita sangat perlu kecukupan dan kelengkapan gizi. Begitu pula ibu hamil dan menyusui. Tetapi sayangnya seringkali merekalah yang justru paling awal terkoreksi asupan makanan sehat bergizinya setiap kali beban ekonomi meningkat," ujarnya.

Menurut Ledia, pada awal 2012 ini saja, Indonesia sudah menjadi 'juara' kelima di dunia untuk negara dengan banyaknya jumlah anak bertubuh pendek yang diakibatkan kurang gizi. "Apa pemerintah mau 'naik peringkat' dengan membiarkan daya beli masyarakat melemah seiring kenaikan BBM?" sindir anggota DPR Dapil Jawa Barat I ini.

Belum lagi, kalau bicara soal pendidikan dan akses kesehatan. Lagi-lagi perempuan dan anak yang akan menjadi korban. Rutinitas cek kesehatan bagi ibu hamil dan anak balita, misalnya, akan mudah tergusur. Begitu pula biaya sekolah yang mahal di ongkos dan mahal di buku atau di perlengkapan sekolah akan memicu anak putus sekolah di usia tamat SD atau SMP.

"Dan, siapa yang akan duluan terpilih untuk putus sekolah? Umumnya anak perempuan. Dan mengapa biaya transport dan buku dan perlengkapan sekolah jadi mahal, juga karena didongkrak kenaikan harga BBM," ujar Ketua V Kaukus Perempuan Parlemen DPR RI ini pula

Karena itu, Ledia dengan tegas meminta pemerintah membatalkan rencana menaikkan harga BBM pada 1 April nanti demi masa depan masyarakat Indonesia yang lebih baik. Sebab sekalipun diiringi rencana pemberian Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM), kenaikan harga BBM tetap akan menyusahkan rakyat. BLSM hanya merupakan solusi jangka pendek dari efek domino yang panjang, membelit, dan merambat ke banyak sektor kehidupan.

Soal beratnya beban APBN, Ledia yakin masih ada jalan untuk melakukan koreksi, di antaranya dengan melakukan efisiensi belanja pemerintah serta perbaikan strategi pengelolaan energi.

"Banyak pos-pos anggaran kementerian dan kelembagaan bisa dihemat. Juga fasilitas bagi pejabat pemerintah. Anggaran perjalanan, fasilitas bagi pejabat, termasuk anggaran pakaian dinas misalnya, bisa dipotong. Dan, itu tidak hanya berlaku bagi pemerintah. Bagi anggota Dewan pun, silakan saja," tantang Ledia.
(nwk/nwk)


Berita Terkait