Pantauan detikcom, bentrok pecah sekitar pukul 18.13 WITA, saat mahasiswa menyandera truk bermuatan elpiji Pertamina yang melintas. Aparat kepolisian langsung bereaksi. "Jangan ditahan, jangan ditahan. Biarkan lewat!" tegas aparat kepolisian di lokasi unjukrasa, kawasan simpang tiga Jl KH Wahid Hasyim-Jl Pramuka.
Sejumlah mahasiswa terlihat diamankan dan dihajar aparat kepolisian dengan menggunakan rotan. Aksi berlanjut dan mahasiswa dipukul mundur hingga memasuki Jl Pramuka.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Lepaskan teman kami, lepaskan teman kami. Polisi arogan!" teriak mahasiswa dari Jl Pramuka.
Setelah perang batu berlangsung sekitar 5 menit, dari Jl Pramuka, terlihat tokoh ulama mencoba untuk menenangkan emosi para mahasiswa. Sedangkan ratusan personel anti huru hara bersikeras untuk menyerbu mahasiswa yang sudah berada sekitar 300 meter dari kawasan simpang tiga tersebut. Namun keinginan mereka ditahan Kapolresta Samarinda Kombes Pol Arief Prapto Santoso.
"Jangan bertindak tanpa perintah atasan. Mengerti?" kata Arief memperingatkan pasukannya.
Situasi mereda setelah para mahasiswa salat Magrib berjamaah sekitar pukul 18.30 WITA di badan Jl Pramuka, yang dipimpin salah satu tokoh ulama di Jl Pramuka. Kemudian, aparat kepolisian yang sebelumnya berada di simpang tiga Jl KH Wahid Hasyim-Jl Pramuka, memilih untuk menarik diri.
Sekitar pukul 18.40 WITA, mahasiswa perlahan-lahan membubarkan diri setelah terlihat tidak ada lagi satu pun polisi berpakaian dinas di lokasi unjuk rasa. Mahasiswa mengklaim, terdapat 4 orang mahasiswa mengalami luka-luka akibat dihajar rotan aparat kepolisian.
Sebelumnya, ratusan mahasiswa berunjuk rasa dengan menyasar Gedung DPRD Kaltim, kantor Gubernur Kaltim serta kawasan SPBU milik Pertamina di simpang tiga Jl Kesuma Bangsa-Jl Bhayangkara.
(try/try)











































