Kepada majelis hakim, Idris menceritakan dirinya mengenal Umar Patek pada awal tahun 2002 di sebuah komunitas yang berada di Tugu Lilin, Solo, Jawa Tengah. Di situ ia mengenal Dul Matin, Imam Samudra, Amrozi, Ali Imron dan Mukhlas.
"Ketemu di Kantor Kompak, Solo. Komunitas apa saya enggak tahu," kata Idris bersaksi, Senin (26/3/2012).
Menurutnya, pertemuan ini digagas Imam Samudra khusus untuk membicarakan rencana jihad melalui aksi teror peledakan bom.
"(Dibicarakan) bagaimana melakukan aksi jihad dan kita menyepakati untuk jihad di Bali," tuturnya sambil menyebut pemimpin jihad Bali adalah Mukhlas.
Dalam pertemuan itu disepakati, Imam Samudra dan Mukhlas akan melakukan survei target lokasi peledakan. Muklas juga memerintahkan Idris membeli mobil Mitsubishi L-300.
Jaksa kemudian menanyakan asal muasal duit untuk membeli mobil tersebut. "30 ribu USD, diberikan bertahap. (Duit) dari Osama Bin Laden," jawab Idris.
Beberapa pekan setelah pertemuan, Idris kemudian berangkat ke Bali membawa dua dus mie instan yang berisi bahan peledak. Namun kepada hakim, Idris mengaku tidak mengetahui jenis bahan peledak dan komponen yang dibawa. "Saya enggak ngerti karena saya enggak pernah belajar," sebutnya.
Setibanya di Bali, Ali Imron sudah menunggunya di Terminal Ubung untuk melanjutkan perjalanan ke pondok pesantren di Menjangan. Idris mengaku baru bertemu Umar Patek pada September 2002 tempat tersebut.
"Di Menjangan itu tempat merakit bom. Tapi saya dilarang Muklas masuk keluar ruangan, jadi saya enggak tahu ada apa di dalam (ruang) itu," jelasnya.
Umar Patek, lanjut Idris pergi keluar Bali sepekan sebelum aksi peledakan pada 12 Oktober. "Ya sekitar seminggu sebelum peledakan, cuma saya agak lupa dia itu pulang setelah bom selesai dirakit atau belum. Pergi kemana terdakwa (Umar Patek) saya enggak tahu, saya cuma antar ke Terminal Ubung," tandasnya.
Usai bom Bali, mereka kemudian berkumpul kembali di Tugu Lilin, Solo di kontrakan Dul Matin. "Di situ ada Mukhlas, Imam Samudera, Amrozi, Ali Imron dan terdakwa," ujarnya.
Saat itu Idris mendapat uang Rp 500 ribu dari Mukhlas untuk ongkos biaya melarikan diri. "Evaluasi itu bahas tujuan (peledakan bom) sudah tercapai," katanya.
(fdn/ndr)











































