"Kejadian bencana-bencana tersebut berpengaruh terhadap ekonomi dan kehidupan global. Gempa bumi di Haiti tahun 2010, banjir di Pakistan tahun 2010, dan banjir di Thailand tahun 2011 makin memerosotkan perekonomian negara-negara miskin dan sedang berkembang," ucap Humas BNPB, Sutopo, melalui rilis yang diterima detikcom (23/03/2012)
Sutopo mengatakan banjir di Australia, gempa bumi di Selandia Baru dan gempa bumi dan tsunami di Jepang pada 2011, menunjukkan bahwa negara-negara kaya pun tidak kebal terhadap risiko bencana. Banyak kerugian ekonomi global yang ditimbulkan akibat bencana yang terjadi beberapa tahun terakhir dan meningkat dua kali lipat pada 2011.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada 2011, lanjut Sutopo, ternyata terjadi peningkatan hampir dua kali lipatnya. Gempa bumi dan tsunami di Jepang pada 11 Maret 2011 yang menimbulkan kerugian USD 220 milyar atau 3,4 persen GDP Jepang atau hampir seperlima GDP Indonesia saat ini. Demikian pula banjir banjir di Thailand pada akhir 2011 menyebabkan 754 orang meninggal, 10 juta orang menderita dan kerugian mencapai USD 45 miliar. Pertumbuhan ekonomi Thailand merosot sekitar 2,4 persen.
"Peningkatan bencana tidak hanya terjadi di luar negeri tapi juga terjadi di Indoensia. Sejarah bencana di Indonesia, berdasarkan DIBI selama tahun 1815-2011 terdapat 11.910 kejadian bencana yang menyebabkan 329.585 jiwa meninggal dan hilang serta lebih dari 15,8, juta jiwa mengungsi,"papar Sutopo.
Bencana yang terjadi di Indonesia merupakam prioritas pembangunan nasional dan merupakan target pertumbuhan pembangunan tahun 2012. Untuk itulah bencana menjadi salah satu prioritas pembangunan nasional.
"Bahkan Presiden SBY menyampaikan bahwa target pertumbuhan pembangunan tahun 2012 sebesar 6,5 persen sangat dipengaruhi oleh faktor yang berpengaruh, yaitu salah satunya bencana. Jika terjadi bencana akan berat mencapai target tersebut. Kita perlu selalu siap siaga untuk mengantisipasinya,"tutupnya.
(rif/mpr)











































