Analis politik dari Charta Politika, Arya Fernandes menyebut panasnya suhu politik antar parpol di Jakarta lumrah terjadi. Alasannya, masing-masing tim mulai mengkampanyekan pengenalan awal.
Khusus untuk dua calon yakni Fauzi Bowo dan Joko Widodo, Arya berpendapat keduanya akan bertarung dengan mengandalkan kekuatan yang dimiliki. Untuk memastikan dukungan di tingkat RW/RT, Foke memang diunggulkan karena berstatus incumbent yang jelas menguasai jaringan birokrasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun amunisi andalan Foke ini, sebut Arya harus menghadapi kekuatan Jokowi. Kebijakan pengetatan pendirian mal di Solo, ditambah penggunaan mobil Esemka, otomatis mengerek tingkat pengenalan publik terhadap lulusan Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada (UGM) ini.
"Fenomena Jokowi tidak bisa dipandang remeh. Karakter Jokowi yang low-profile dan cita positif Jokowi di media bisa pengaruhi level emosi pemilih terutama pemilih dengan segmen menengah ke bawah," terangnya.
Arya menambahkan, para calon termasuk Foke dan Jokowi akan menggunakan perpaduan model kampanye tradisional dan modern. Menemui warga Ibu Kota dan memasang iklan di media massa termasuk di luar ruang akan tetap digunakan calon untuk mengenalkan diri ke publik.
"Dalam dua model kampanye tersebut kekuatan pesan kampanye dari kandidat akan sangat mempengarahui psikologi politik pemilih," katanya.
Seperti diketahui ada enam pasang calon gubernur/wakil gubernur. Mereka adalah Alex Noerdin-Nono Sampono, Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama, Foke-Nachrowi Ramli dan Hidayat Nur Wahid-Didik J Rachbini.
Sementara Faisal Basri-Biem Benjamin dan Hendardji Soepandji-A Riza Patria ikut bersaing di kontestasi politik lima tahunan ini melalui jalur independen.
(fdn/mad)










































