"Siap (dipanggil KPK). Silakan, itu tidak ada masalah. Tetapi harus ada logikanya dulu. Jangan gedebak-gedebuk," kata Purnomo usai menghadiri acara Jakarta International Defense Dialogue di JCC, Komplek Senayan, Jakarta, Rabu (21/3/2012).
Namun sebelum dipanggil KPK, Purnomo akan menjelaskan hal tersebut ke DPR. Selain itu, Purnomo selama ini tetap masih belum mengerti mengapa ada tudingan terjadi praktek korupsi dalam pengadaan 6 pesawat tempur canggih tersebut.
"Nanti tanggal 26 Maret Kemhan akan memberi penjelasan ke DPR, salah satunya membicarakan masalah Sukhoi," kata Purnomo.
Purnomo enggan menjawab saat ditanya soal makelar penjualan alutsista itu. "Kalau soal broker tanya ke Kementerian Keuangan (Kemenkeu)," katanya.
Dia lantas menjelaskan proses pembelian pesawat tersebut. "Kalau untuk Sukhoi pertama dari TNI AU, naik ke Mabes TNI. Di Mabes TNI akan dilihat option recruitmentnya. Baru ke Kemhan yang dilakukan negosiasi harga. Lalu ada tim evaluasi pengadaan di Kemhan, nanti digodok lalu dilaporkan ke menteri sebagai penanggung jawab anggaran. Tapi sebelum itu masuk dulu ke high level committee (HLC) dan ada tim konsultasi pencegah penyimpangan barang dan jasa," beber eks Menteri ESDM ini.
Usai hal di atas dilakukan, maka berkas dikirim ke Kemenkeu. "Lalu urutannya setelah di Kemhan kita tanda tangani kontrak. Tetapi kontrak tidak efektif kalau loan agreement (persetujuan pinjaman) tidak ada dari Kemenkeu. Dan sampai sekarang loan agreement belum ada. Jadi kalau loan agreement belum ada, korupsinya di mana?" tanya balik Purnomo.
Dugaan adanya penggelembungan semula disampaikan Wakil Ketua Komisi I DPR, Tubagus Hasanuddin. Ia mengatakan Rosoboron Export, perusahaan pemasok pesawat, pada Juli 2011 menyampaikan harga Sukhoi SU-30 MK2 sekitar US$ 60-70 juta per unit. Harga termahal yaitu US$ 70 juta, hanya membutuhkan dana US$ 420 juta untuk enam pesawat. Sementara dana yang digunakan Kementerian Pertahanan untuk membeli mencapai US$ 470 juta atau selisih US$ 50 juta.
"Spesifikasi yang dibeli lebih mahal? Kan spek-nya berbeda-beda. Sama-sama alutista tapi beda spesifikasinya harganya juga beda," komentar Purnomo.
(asp/nrl)











































