Selebaran berukuran 30x20cm ini didominasi warna kuning sebagai latarnya. Di kini dan kanan atas, terdapat dua roket 'Tintin' yang mengapit judul 'Harga Minyak Dunia Meroket' dan 'saat ini membus 106,67 US$ per barel'.
Di bawah roket pada bagian kanan terdapat box warna merah tentang resiko bila harga BBM dinaikkan. Yaitu 'bila ekonomi nasional tidak diselamatkan, akhirnya rakyat semakin sengsara'.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Tetapi harga BBM dinaikkan jadi Rp 6.000/liter dan mengurangi anggaran kementerian/lembaga.
2. Sehingga beban APBN berkurang.
3. Subsidi tak membengkak jadi Rp 230,43 triliun dari Rp 168,55 triliun dan tepat sasaran.
Di bawahnya lagi terdapat box warga ungu dengan foto Presiden SBY sedang menyerahkan sebuah bingkisan kepada seorang wanita. Teksnya mengenai sasaran dari program kompensasi yaitu 18,5 juta KK buruh, petani dan nelayan yang tergolong miskin dan rentan.
Box ungu itu mengarah ke box biru yang berisi paparan program kompensasi dimaksud. Ada lima butir, yaitu;
1. BLSM Rp 150.000/bulan/KK selama 9 bulan.
2. Penambahan raskin menjadi 14 bulan.
3. Insentif pengelolaan transportasi Rp 5 trilyun.
4. Beasiswa untuk siswa miskin Rp 5,9 trilyun.
5. Pasar murah rakyat.
Sementara di bagian kanan bawah, dicantumkan grafik perbandingan harga BBM di sejumlah negara dalam satuan rupiah. Bila harga BBM jadi Rp 6.000/liter, tetap lebih murah dibandingkan Vietnam yang Rp 7.759/liter.
Di kanan terdapat peringatan agar warga masyarakat waspadai. Isi dari peringatan itu "Waspada! Rakyat miskin mau dibantu kok masih ada saja yang menentang?"
Lalu ada nomer SMS dan PO Box untuk pengaduan bila masyarakat mengetahui terjadi penyimpangan pelaksaan program kompensasi itu. Yakni di SMS 9949 dan PO Box 9949 JKT 1000.
(lh/gun)











































