"Jadi begini, memang ini kan terus berkembang, baik dari sisi alat bukti di TKP, kemudian fakta-fakta lain yang berkaitan masalah-masalah, siapa sebenarnya ini kan," kata Kapolri Jendera Pol Timur Pradopo menjawab rasa penasaran publik, di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta, Rabu (21/3/2012).
5 Pria yang didor di Bali itu tewas dalam penyergapan yang dilakukan Densus 88 Antiteror pada Minggu (18/3) malam. Mereka disebutkan akan melakukan perampokan di toko emas dan money changer di Bali. Kabarnya, uang itu yang akan digunakan untuk membeli peledak dan mengincar sebuah cafe di Pulau Dewata itu. Belum terungkap, benarkah ada rencana peledakan itu?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ucapan Hariyadi pada Senin (19/3) pagi itu dimentahkan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Ansyaad Mbai. Bahkan, dengan yakin Ansyaad menyebut para pelaku terkait jaringan teroris Solo. Kaitannya melalui kasus perampokan CIMB Niaga, Medan.
Kemudian pada Selasa (20/3) Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Saud Usman menyebut adanya bukti-bukti ditemukan berupa buku-buku jihad dan denah rencana aksi. Tapi sayangnya, Saud tidak merinci, kaitan 5 pria itu dengan pelaku teror.
Timur sempat menyebut bahwa kaitan dengan kasus perampokan CIMB Niaga di Medan pun masih diselidiki. Petugas masih berupaya mengungkap.
"Yang pasti ini berangkat dari kasus perampokan Bank CIMB di Sumatera Utara. Kalau itu nanti ada kaitan dengan masalah teroris, sekali lagi pengembangan yang tidak akan pernah berhenti oleh petugas dalam hal ini adalah detasemen dibantu oleh aparat wilayah termasuk masyarakat bagaimana mengembangkan ini membuat masalah ini akan lebih jelas misalnya apa di balik itu semua," jelas Timur.
Sebenarnya, yang dibutuhkan publik adalah penjelasan. Ada baiknya polisi membeberkan secara utuh siapa sebenarnya mereka. Jangan publik dibuat bertanya-tanya. Khawatir malah muncul isu miring, penyergapan teroris hanya sekadar pengalihan isu.
(ndr/nrl)











































