Ada yang menarik dari pilgub DKI tahun ini, beberapa pasang cagub dan cawagub malah ada yang berasal dari partai yang tidak mengusung pasangan calon itu. Namun, fenomena ini bukanlah dianggap suatu yang baru, ini dianggap sebagai pragmatisme politik untuk mendapatkan kelebihan suara dari partai lain.
"Cara seperti ini hanya lebih merupakan kejelian suatau partai untuk memperoleh tambahan suara dari kader partai yang tidak bergabung dengan koalisi mereka," ujar analis Charta Politika, Arya Fernades, saat duhubungi detikcom, Rabu (21/3/2012).
Arya menambahkan, kasus tidak didukungnya salah satu kader dalam dan malah menjadi pemenang , bahkan pernah terjadi di Pilpres. Publik tentu masih ingat ketika pada saat itu, Jusuf Kalla yang secara politik tidak didukung oleh partainya sendiri akhinya malah menang dan akhirnya partainya menjadi salah satu pendukung Partai Demokrat di DPR.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seperti diketahui untuk pasangan Hidayat Nurwahid - Didik J. Rachbini dan Joko Widodo - Ahok, masing-masing cawagub tersebut berasal dari partai yang tidak mendukung pasangan calon tersebut. Namun nasib Didik masih lebih beruntung daripada Ahok, politisi Partai Golkar ini dipaksa untuk keluar dari partai yang membesarkannya selama ini.
pertama saya melihat memang tiap partai memiliki mekanisme menjaring calon ada yang melalui rapat pimpinan dan ada juga melalui rapat melalui hasil survey. dan saya lihat di kedua partai, baik golkar maupun pks cukup proprsional dalam menjaring partai, ada rapat DPP, kemudian di PKS juga seperti itu. Kenapa ada dua partai lain yang dicalonkan partai lain ini kejelian partai lain, menambah suara.
(riz/mad)










































