Isu rasial menjadi salah satu isu paling sensitif, namun dianggap paling efektif untuk mempengaruhi psikologi pemilih. Namun, hal ini dinilai tidak akan banyak berpengaruh apabila taktik ini tetap diterapkan di kota metropolitan seperti Jakarta.
"Teknik kampanye negatif itu sangat biasa dalam suatu pemilihan. Namun apabila itu dikaitkan dengan isu rasial, apalagi di Jakarta, tentunya itu bukan zamannya lagi di tengah masyarakat modern ibukota," terang analis Charta Politika, Arya Fernandes kepada detikcom, Rabu (21/3/2012).
Menurutnya, seharusnya dalam kampanye-kampanye, yang diserang oleh para kandidat yang bersaing adalah lebih kepada substansi. Tidak melulu membahas masalah mengenai isu rasial. Karena ia menilai masyarakat modern ibukota sudah tidak terlalu memperdulikan model kampanye seperti itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Arya menilai, apa yang dilakukan Foke tidak akan mampu mempengaruhi pemilih yang bertenis betawi di pada pilkada Jakarta mendatang. DKI Jakarta yang tidak hanya dihuni oleh suku betawi atau heterogen membuat rasial sudah tidak menjadi pertimbangan pemilih.
"Selanjutnya, orang Betawi sendiri itu secara kultur terkenal terbuka dengan pendatang. Penerimaan mereka terhadap orang luar cukup tinggi dan mereka juga terbuka terhadap perubahan. Sehingga hal yang berkaitan dengan ras sudah tidak akan banyak memberikan dampak lagi," imbuhnya.
Seperti diketahui, sindiran Foke atas calon dari luar Jakarta diungkapkan dalam deklarasi bersama Nachrowi Ramli kemarin. Foke meminta warga Jakarta memilih calon yang sudah dikenal. "Pilih yang kenal Jakarta, bukan yang tidak kenal Jakarta dan sudah teruji. Mari kita lanjutkan yang sudah ada. Kami berdua tidak ikhlas Jakarta diacak-acak orang lain, mari kembali menata Jakarta dengan orang Jakarta," ujar Foke.
(riz/mad)











































