Harapan pun dia gantungkan pada sosok SBY selaku pemimpin negeri ini. Tapi apa daya, sang presiden tengah ada acara di Istana Bogor, dan tak bisa menjumpai rakyat biasa seperti dirinya.
"Ternyata ketika saya sampai di sana (Istana) saya sudah dikondisikan bertemu dengan Denny Indrayana. Di sana tadi sekitar 30 menit," kata Indra saat ditemui di LBH Jakarta, Jl Diponegoro, Jakarta, Selasa (20/03/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejak zaman Soeharto, Indra sudah mendamba keadilan. Pemerintahan berganti, kini harapan ada pada SBY, namun apa daya mimpi dia mengadu ke seorang presiden musnah. Gambaran Indra, mungkin mewakili rakyat kecil di negeri ini yang merindukan keadilan.
"Saya cerita maksud dan tujuan saya ingin bertemu bapak presiden tapi ditolak," cerita Indra.
Alhasil, melalui Wamen Denny, Indra menitipkan uang yang dahulu pernah diberikan SBY. Uang Rp 25 juta dalam bentuk pecahan Rp 50 ribu dan Rp 100 ribu dia kembalikan ke SBY melalui Denny.
"Sudah terjadi serah terima kepada Denny Indrayana sejumlah uang sebanyak Rp 25 juta di Gedung Bina Graha lantai 1," ungkapnya.
Indra merasa berdosa kepada anaknya bila menerima uang itu. Yang dia inginkan keadilan bagi anaknya, bukan uang semata. Karena itu dia pun rela berjalan kaki dari Malang ke Jakarta.
"Saya anggap uang yang saya berikan itu adalah suap. Membungkam mulut saya salah alamat. Terserah anggapan masyarakat tentang saya, saya tanggung sendiri resikonya," jelasnya.
Setelah gagal bertemu SBY, Indra berencana akan pergi ke Mekkah. Dia akan mengadu ke sang maha kuasa. Namun hingga 2-3 hari ke depan dia akan tinggal di LBH Jakarta guna memulihkan staminanya.
"Saya mau ke Mekah, saya mau mengadu di sana," tegasnya.
(arb/ndr)











































