Rupanya 'curhatan' SBY ini menuai berbagai respon dari sejumlah anggota DPR. Salah satunya datang dari anggota Komisi I DPR dari Fraksi PDIP TB Hasanuddin.
Menurutnya, setiap orang yang pernah mengenyam pendidikan di Akademi Militer pasti pernah mengalami gemblengan untuk tak pernah mengeluh karena tekanan situasi, apalagi mengeluh kepada anak buahnya. Karakter itu telah hilang dari ketokohan presiden SBY.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hasanuddin mengatakan seorang pemimpin adalah orang yang siap menyerahkan waktu, tenaga dan pikirannya untuk kepentingan rakyat. Seorang pemimpin juga orang yang harus siap menghadapi segala resiko yang dihadapinya termasuk diciderai bahkan maut mengintainya setiap saat.
"Tak ada alasan kemudian mengeluh kepada rakyat, seharusnya pemimpinlah yang harus selalu siap menerima setiap keluhan rakyatnya, kapan dan dimanapun. Semoga bangsa ini bisa melewati hari-hari yang sulit, tanpa pemimpin yang tegar," ungkapnya.
Respon serupa disampaikan oleh anggota Komisi III DPR dari Fraksi PKS Aboe Bakar Al Habsyi. Menurut AL Habsyi, rakyat sudah dalam posisi yang kepepet. Harga BBM yang masih direncanakan naik, namun harga barang sudang melejit duluan, bahkan ongkos angkutan umum pun ikut-ikutan. Padahal pendapatan mereka tak ada perubahan bahkan lebih buruk.
"Sawah para petani banyak kena puso, sehingga gagal panen, ombak yang tinggi dan angin kencang bikin
nelayan tak bisa melaut. Belum lagi bencana banjir dimana-mana, persoalan teroris dan korupsi tiap hari nongol di TV. Sepertinya setiap kepala rakyat ini dipenuhi beban hidup, belum lagi persoalan
tingginya biaya pendidikan dan kesehatan," paparnya.
Aboe Bakar mengatakan ditengah penatnya cobaan hidup tersebut mereka tak menemukan ruang untuk curhat, karena ruang itu sudah dipenuhi oleh curhat orang lain. Rakyat harus mendengar curhat tentang adanya acaman mau dilengserkan dari kekuasaan, keluh kesah terima sms soal BBM, bahkan keluhan soal
ancaman keselamatan kepada keluarga.
"Saya tak dapat membayangkan gimana penuhnya otak rakyat ini, mikirin makan besuk saja sulit apalagi berpikir pelengseran kekuasaan. Soal kenaikan BBM mereka tak hanya menerima keluhan, bahkan mereka merasakan sendiri dampaknya. Apalagi harus memikirkan kemanan orang yang sudah punya maximum
security, mereka pun kemana-mana sendiri tanpa ada asuransi," jelasnya.
"Saya sendiri sudah tak bisa berkomentar banyak, saya sangat galau, seharusnya rakyat yang curhat, malah ini sebaliknya. Bila rakyat menjerit karena tak mampu cari makan akibat naikknya harga BBM itu sangat wajar, namun bila ada yang curhat karena takut kehilangan kekuasaan saya kira itu tidak patut," tutupnya.
Sementara itu anggota Komisi III DPR dari Fraksi Partai Demokrat Saan Mustopa mengatakan apa yang disampaikan oleh Presiden SBY adalah hal yang wajar sebagai seorang pemimpin bangsa. Terlebih kekhawatiran akan ancaman sejumlah kelompok masyarakat yang ingin presiden turun sebelum masa kerja habis adalah nyata.
"Gerakan aneh itu diluar konstitusi, ada upaya SBY berhenti ditengah jalan, sebelum masa jabatan selesai. Apa yang disampaikan tentu bukan mengada ada tapi ditopang oleh data kuat," kata Saan.
Saan mengatakan PD sebagai partai pendukung pemerintah menginginkan proses politik secara konsitusional. Menurutnya tidak alasan kuat atau urgen untuk menghentikan pemerintahan SBY ditengah jalan.
"Apa yang dilakukan kelompok itu tanpa dasar dan argumen kuat, kecuali kebencian kepada presiden. Dari segi pembangunan ekonomi, pemerintah sudah mencapai hasil luar biasa," ungkapnya.
PD tidak tinggal diam dengan adanya ancaman tersebut. PD akan menjelaskan kepada masyarakat bahwa setiap aspirasi dan sikap politik harus disampaikan sesuai dengan jalur konstitusi.
"Kedua, apa yang sudah dicapai pemerintah selama jadi presiden tentu rakyat sudah dapat menilai, merasakan, salah satunya dengan memberi kepercayaan kepada presiden untuk memimpin pada periode kedua ini," tuturnya.
(mpr/fiq)











































