Kusutnya Jakarta Saat Kelas Menengah Berburu Diskon 90%
Kamis, 05 Agu 2004 19:00 WIB
Jakarta - Rakyat miskin rebutan sembako gratis, biasa. Bagaimana jika kelas menengah berburu barang murah? Kalau ingin tahu jawabnya, ya seperti wajah Jakarta hari Kamis ini (5/8/2004). Empat ruas jalan Sudirman hari ini benar-benar kisut.Kusutnya jalan protokol yang membelah jantung Jakarta itu karena ribuan masyarakat berusaha memasuki Electronic City (EC) yang berada di kawasan perkantoran Sudirman Central Business Distric (SCBD). EC diserbu karena menggelar pesta diskon hingga 90%.Bayangkan, TV Samsung 21 inchi dari Rp 1,59 juta merosot tajam jadi Rp 159 ribu. Toshiba Projection TV 61 inchi dari Rp 24,9 juta anjlok hanya Rp 9,9 juta. Mesin cuci Electrolux dari Rp 8,2 juta dikorting 75% menjadi Rp 1,9 juta. Siapa yang tidak terdorong pergi ke EC? Iklan itu diimbuhi tulisan "stok terbatas"Tak heran bila EC sudah disanggong 500 orang sejak pukul 07.30 WIB. Dan jumlah itu terus membludak seiring meningginya matahari. Alhasil, ketika pukul 10.00 WIB EC buka, barang dagangan hari itu seketika ludes. Alasan manajemen, produk yang dijual hari ini hanya 100 biji sedangkan yang ngantre berkali-kali lipatnya. Buntutnya, manajemen pun mengundi jualannya. Yang tidak kebagian terpaksa balik kanan setelah berteriak "huuu...." menandakan kekecewaan.Jika melihat iklan EC di media massa, para konsumen memang tak patut disalahkan. Mereka sah-sah saja mengundi nasib siapa tahu dapat TV kinclong seharga Rp 159 ribu. Di sisi lain, EC pun tidak bisa melarang tingginya arus pengunjung.Ujung-ujungnya, konsumen pun merasa ditipu. Anung, seorang pembaca detikcom, menyebut sejumlah kerugian akibat fenomena EC itu. Pertama, penipuan berkedok diskon. Kedua, mengganggu ketertiban umum karena kemacetan di empat ruas jalan utama yang menuju Semanggi.Ketiga, mengganggu kelancaran kerja polisi karena semua jalan keluar-masuk Polda terblokir. Keempat, mengganggu kinerja kantor-kantor karena macet dan banyak karyawan pada bolos pergi ke EC.Pernyataan Anung didukung YLKI. Lembaga konsumen ini menuding bahwa iklan EC tidak informatif. Iklan itu tidak merinci berapa banyak stok yang dijual. Seperti iklan kebanyakan di Indonesia, EC hanya menulis "Stok Terbatas". Berapa terbatas itu, tidak disebut.Faktanya, jumlah barang benar-benar terbatas. Satu produk paling dijual 1-3 unit saja. Total jenderal, stok terbatas itu hari ini berjumlah 100 unit. Namun manajemen menyangkal keras iklan itu mengandung unsur membohongi publik.Tampaknya, cerita Hana, pembaca detikcom di Singapura, bisa menjadi solusi. "Iklan di sini fair, sering menyebut jumlah barang yang didiskon. Misalnya sofa tinggal 3 unit, dsb. Stok yang didiskon juga cukup banyak, tidak akan habis seketika dalam 2-3 jam. Kalau dalam 1 hari habis, paling-paling habisnya di sore hari. Jadi tidak membuat konsumen gondok," tuturnya.Terlepas dari perlunya iklan yang lebih jujur, mengapa kelas menengah rela berkorban berangkat pagi-pagi, juga di tengah terik matahari ke EC? Jawabnya, barang murah memang menggiurkan, apalagi yang berkantong ngepas ala kelas menengah. "Maklum, belum banyak rakyat yang makmur," celetuk Sam, seorang calon konsumen EC yang kecewa.
(nrl/)











































