"Polri kehilangan sosok Kapolri yang berkarakter," kata Buyung memulai pembicaraanya dengan wartawan di Auditorium PTIK, Jl Tirtayasa, Jakarta, Jumat (16/3/2012).
Saat reformasi bergolak di Indonesia, Dibyo menjabat sebagai Kepala Polri. Polri sendiri saat itu masih berada di bawah TNI. Saat peristiwa itu, 4 mahasiswa Trisakti tewas diterjang timah panas aparat kepolisian yang mengamankan demonstransi mahasiswa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk membela diri, Dibyo lantas meminta Buyung untuk mendampingi Polri dalam proses hukum. Namun TNI menolak permintaan Dibyo dengan alasan Polri wajib menggunakan penasehat internal dari TNI sebagai induknya.
"Saya pertaruhkan jabatan saya demi anak buah saya, dan menerima untuk tidak menggunakan tim pembela dari luar Mabes Abri," kata Buyung menirukan ucapan Dibyo saat itu.
Dengan sikap tegasnya tersebut, Buyung mensejajarkan Dibyo dengan Jenderal Hoegeng yang terkenal santun dan sederhana namun tegas dalam amanat.
"Almarhum sama seperti Kapolri Hoegeng kedua, dan berano mengambil risiko dan berani mengambil resiko untuk jabatannya," tutur Buyung.
"Mudah-mudahan ke depan punya Kapolri seperti itu lagi," harap Buyung.
(ahy/gun)











































