Kekeringan, Warga Gunung Kidul Jual Ternak untuk Beli Air

Kekeringan, Warga Gunung Kidul Jual Ternak untuk Beli Air

- detikNews
Kamis, 05 Agu 2004 00:01 WIB
Gunung Kidul - Kekeringan mulai melanda di wilayah Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Sedikitnya ada tujuh kecamatan dan 42 desa di wilayah pegunungan seribu itu mulai kekurangan air. Akibatnya banyak warga menjual sebagai harta kekayaan berupa hewan ternak berupa sapi dan kambing untuk mendapatkan air bersih. Diperkirakan hampir 90 persen telaga yang tersebar di wilayah Gunung Kidul yang menjadi penampung air di setiap musim hujan sudah kering.Kalau pun masih ada air hanya tinggal sedikit dan warna kehijauan bercampur dengan lumut. Telaga yang airnya hijau itu setiap hari digunakan oleh warga untuik mandi, mencuci pakaian bahkan digunakan pula untuk memandikan hewan ternaknya.Beberapa kecamatan yang kondisinya saat itu mulai rawan air antara lain Kecamatan Tepus, Saptosari,Girisubo, Panggang. Purwosari Tanjungsari dan Kecamatan Semanu. Untuk mengatasi kekeringan tersebut, Pemerintah Kabupaten Gunung Kidul telah menyediakan dana sekitar Rp 450 juta guna membantu warga."Kalau ada sapi makan pedhet (anak sapi - red) atau sebelaiknya di musim kering ini sudah biasa di Gunung Kidul, karena untuk membeli pakan ataupun air," kata Kamiran warga Saptosari Gunung Kidul, Rabu (4/8/2004).Menurut Kamiran, saat ini air dari tangki-tangki swasta yang dijual di desa-desa sekitar Rp 60 ribu sampai Rp 85 ribu per lima ribu liter. Bila jarak yang ditempuh lebih jauh dan terpencil rumahnya, maka harga air bersih bisa lebih mahal hingga Rp 85 ribu/tangki. Menurut Wintolo (56) warga Desa Kemiri, Kecamatan Tanjungsari Gunungkidul, lima hari yang lalu dirinya terpaksa menjual kambing untuk membeli air. Mengingat kambingnya masih kecil, maka hanya laku dijual Rp 120.000 per ekor. Uang hasil penjualan kambing itu, dipergunakan untuk membeli air satu tangki sebanyak 5.000 liter seharga Rp 80 ribu. "Sisa penjualan kambing saya pergunakan untuk memenuhi kebutuhan yang lain," katanya.Air satu tangki tersebut kata Wintolo dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari bagi lima anggota keluarganya selama satu bulan. Bahkan bisa mencapai satu setengah bulan bila irit penggunaannya. "Kalau sampai pertengahan September ini tidak turun hujan, terpaksa saya menjual hewan ternak lain," kata Wintolo.Sementara itu menurut Kasidi (60) warga Desa Dadapayu, Kecamatan Semanu untuk membeli air bersih diwilayahnya saat ini bisa mencapai Rp 90 ribu/tangki. Dirinya terpaksa menjual ternak sapi untuk membeli air.Diakui oleh Kasidi, sebenarnya untuk memenuhi kebutuhan air Pemkab sudah memberikan bantuan berupa dropping air. Namun karena dropping dari Pemkab tidak menentu, hampir semua warga di desanya melakukan pembelian air. "Dropping dari pemeirntah datangnya tidak pasti. Karena persedian air sudah habis dan dropping datangnya tidak pasti, kita terpaksa membeli air," katanya. (gtp/)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini