Hal itu disampaikan Menteri Agama dan Wakaf Aljazair Dr. Bouabdallah Ghalamallah saat menerima Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dan Dubes RI untuk Republik Aljazair Ahmad Niam Salim seperti dituturkan Sekpri Dubes, Muhammad Nur Hayid, Minggu (11/3/2012).
Dalam pertemuan di ruang kerjanya di Aljir, Aljazair, Jumat malam (9/3/2012), Ghalamallah mengatakan bahwa pemerintah Aljazair ingin hubungan dan kerjasama dengan Indonesia tidak hanya dalam bidang diplomasi dan ekonomi, tetapi juga dalam bidang pendidikan dan penanganan soal paham ekstrimisme.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menanggapi hal itu, K.H. Said Aqil langsung menyambut baik upaya dan niat baik pihak Aljazair untuk belajar pengalaman Indonesia, khususnya NU dalam menangani gerakan ekstremisme dan terorisme. Sebab Kiai Said sebelumnya juga pernah dilibatkan langsung dalam beberapa kali program deradikalisasi pemikiran keagamaan oleh Polri dan pemerintah.
"Kami menyambut baik usulan kerjasama itu, tinggal kita bicarakan teknisnya. Bisa dalam bentuk pengiriman tokoh-tokoh agama dan tokoh-tokoh pesantren, pertukaran pelajar dan santri serta mahasiswa atau kunjungan otoritas pemerintah RI," terang Kiai Said yang langsung disambut setuju oleh Ghalamallah.
Dalam pertemuan itu, Kiai said juga menegaskan soal kesiapannya mengirimkan tokoh-tokoh pesantren dan ulama Indonesia untuk pertukaran ulama di bawah bendera Kementerian Agama dan Wakaf Aljazair.
Dengan respon baik dari Indonesia, Kementerian Agama dan Wakaf Aljazair juga menyampaikan terimakasihnya atas kesiapan Indonesia, khususnya NU dalam menggelar beberapa program kerjasama di bidang keagamaan dan budaya. (es/es)










































