"86,6 persen publik tidak setuju. Publik menolak kenaikan. Dalam sejarah LSI angka ini sangat besar. Belum pernah ada angka besar terkait kebijakan seperti ini," kata peneliti LSI Adjie Al Faraby.
Pernyataan tersebut disampaikan Adjie dalam jumpa pers mengenai hasil survei LSI 'BBM, BLT, dan Efek Elektoral', di kantor LSI, Jl Pemuda, Rawamangun, Minggu (11/3/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Survei dilakukan 5-8 Maret 2012," ujar Adjie.
Menurut dia, tiga kali LSI menggelar survei mengenai respons publik terhadap kenaikan BBM yaitu tahun 2005, 2008, dan yang teranyar adalah yang hari ini dirilis LSI.
Dalam survei tersebut, jelas Adjie, memperlihatkan angka penolakan publik terhadap rencana kebijakan pemerintah menaikkan BBM selalu di atas 75 persen. Berbeda dengan survei kali ini yang menunjukan 86,6 persen penolakan dari publik.
"Ini menunjukan kenaikan harga BBM adalah isu yang sensitif. BBM menyangkut hajat hidup orang banyak. Tidak hanya berimplikasi pada satu sektor saja tapi seluruh sektor kehidupan masyarakat," tuturnya.
(ahy/nrl)










































