Microtext Code Hingga Online Trace, Cara Tangkal Wine Palsu

Microtext Code Hingga Online Trace, Cara Tangkal Wine Palsu

Chazizah Gusnita - detikNews
Jumat, 09 Mar 2012 17:25 WIB
Microtext Code Hingga Online Trace, Cara Tangkal Wine Palsu
Jakarta - Selain dikonsumsi, wine tertentu juga menjadi bahan koleksi seharga karya seni. Apesnya, banyak ahli memperkirakan bahwa 5% dari total wine and rare wines yang ada di pasaran sekarang merupakan wine aspal.

"Dan tidak menutup kemungkinan bahwa wine kelas menengah maupun yang murah pun bisa dipalsu," komentar pakar wine Indonesia, Yohan Handoyo, dalam perbincangan dengan detikcom, Jumat (9/12/2012).

Yohan yakin, perkiraan para ahli itu tidak mengada-ada. Dan tentu para winery, rumah pelelangan, dan wine merchant tidak tinggal diam dalam menghadapi kasus ini. Yohan menyebut, Chateau Margaux sejak tahun 1989 sudah mengukirkan micro serial number di botol wine mereka dengan teknologi laser-etching.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Demikian pula dengan Penfold dan Roederer Champagne. Beberapa produsen lainnya juga sudah mulai menggunakan microtext code di label mereka yang bisa terlihat dengan bantuan kaca pembesar. Sebagian lagi malah memberikan fitur online trace di website mereka sehingga kita bisa memasukan nomor atau kode tertentu di botol/label wine tersebut dan melihat travel history wine tersebut.

Sassicaia, setelah terpukul dengan publikasi media tentang wine mereka yang dipalsu, sekarang sedang mencoba untuk menggunakan teknologi microchip dalam label mereka. "Winery yang dananya lebih terbatas, juga mulai menggunakan stiker hologram meskipun teknologi seperti ini bisa dengan gampang ditiru di Mangga Dua," kata Yohan.

Yohan menambahkan, SICPA, perusahaan penghasil security ink yang biasa digunakan untuk mencetak uang kertas, juga sekarang mulai memasarkan teknologi mereka kepada para winery kelas atas untuk mengurangi kemungkinan pemalsuan label ini. Dan sekarang para rumah lelang juga tidak mau dengan gampangnya menerima wine dari para kolektor untuk dilelang. Para kolektor tersebut harus dapat memberikan bukti dokumen yang menunjukan keaslian dan provenance (travel history) dari wine tersebut. Setelah persyaratan itu dipenuhi, baru kurator khusus wine rumah lelang tersebut menguji lebih jauh keaslian wine-wine tersebut.

"Jadi, sebagai wine lover sekarang kita harus lebih hati-hati dalam membeli. Yang paling utama adalah jangan gampang tergiur dengan tawaran wine yang “too good to be true”. Yang kedua, belilah wine dari sumber yang Anda percayai. Jangan sampai Chateau Lafite yang kita beli ternyata adalah Chateau La-fake," bebernya.

Isu pemalsuan wine mencuat dengan penangkapan kolektor wine kelas kakap asal Indonesia, Rudy Kurniawan (35), oleh FBI. Dia diadukan oleh miliarder AS, William 'Bill' Koch, sejak tahun 2009 karena ditengarani menjual wine palsu dri rumah lelang.

(nrl/nrl)


Berita Terkait