"Aurora borealis itu terjadi ketika partikel bermuatan tinggi hasil dari badai matahari dibelokkan oleh garis medan magnet," ujar Profesor Riset Astronomi Astrofisika Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Thomas Djamaluddin, dalam perbincangan dengan detikcom, Kamis (8/3/2012).
Cahaya yang menyala-nyala itu ada lapisan ionosfer. Aurora Borealis bentuknya seperti tirai cahaya dengan aneka warna seperti hijau, merah dan kuning.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Aurora terjadi di daerah di sekitar kutub utara dan kutub selatan. Nah, aurora yang terjadi di daerah sebelah utara dikenal dengan nama aurora borealis. Sebenarnya aurora borealis ini tidak hanya terjadi saat badai matahari. Fenomena ini bisa disaksikan
di antara September dan Oktober serta Maret dan April.
"Jadi di kita (Bumi), aurora itu kelihatan di wilayah kutub utara saja. Kalau di Indonesia tidak kelihatan," sambung Djamaluddin.
Menurut Djamaluddin, saat ini matahari sedang dalam masa mendekati aktif sehingga badai matahari lebih sering terjadi. Kekuatan badai pun diperkirakan semakin meningkat. Puncaknya diperkirakan pada 2013.
"Badai matahari itu yang paling riskan adalah kutub utara, karena partikelnya dibelokkan medan magnetnya ke arah kutub. Makanya penerbangan yang transpolar atau melalui kutub dialihkan untuk menghindari terpaparnya awak pesawat, sehingga bisa mengakibatkan gangguan metabolisme tubuh," tambahnya.
Badai matahari juga berpotensi mengganggu operasional satelit dan komunikasi radio gelombang pendek. Badai matahari juga berpotensi menimbulkan arus induksi pada jaringan listrik yang menyebabkan terbakarnya trafo. Hal ini pernah terjadi di Quebec Kanada pada 1989, dan tahun 2000-an di Swedia.
(/nrl)










































