"Gejala yang ditunjukkan dua balita itu sama seperti gejala orang yang terinfeksi virus flu burung. Karena itu dirawat di ruang khusus di Rumah Sakit Umum Bima," kata Kepala Dinas Kesehatan NTB, Mochammad Ismail di Mataram, Kamis (8/3/2012).
Kedua balita tersebut sebelumnya dirawat di Puskesmas Bolo, kemudian dirujuk Rumah Sakit Umum Bima. Bolo adalah satu dari sepuluh kecamatan di Bima yang diserang virus flu burung, tempat sedikitnya 8.500 unggas mati mendadak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tapi kita tidak mau kecolongan. Karena itu untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan, kita memilih merawat kedua balita itu di ruang khusus. Apalagi mereka berasal dari kecamatan yang unggasnya terserang virus flu burung," kata Ismail.
Sampel darah sudah diambil dan kini tengah diperiksa di laboratorium. Diperkirakan uji sampel darah butuh waktu tiga hari. Selama hasil laboratorium belum diperoleh, kedua balita itu akan tetap ditangani sesuai prosedur tetap penanganan pasien flu burung dan dirawat di ruang khusus.
Berdasarkan laporan dari RSUD Bima, kedua balita demam tinggi selama tiga hari. Orang tua kedua balita rupanya abai, karena menganggap anak mereka demam biasa. Kedua balita baru dibawa ke puskesmas setelah suhu badannya tak kunjung turun.
Sepuluh kecamatan di Bima diserang virus flu burung dan kini sudah memasuki pekan kedua. Kasus flu burung pertama kali ditemukan akhir Februari 2012. Massa inkubasi virus itu akan berlangsung selama 14 hari dan masyarakat di Bima dihimbau waspada.
Dinas Kesehatan NTB telah menyebar obat tamiflu, obat untuk flu burung di sepuluh kecamatan. Saat ini Dinas Kesehatan NTB tengah meminta tambahan obat tamiflu ke Kementerian Kesehatan, mengingat serangan virus flu burung di Bima yang kian mengganas.
(try/try)











































