"Di sepanjang sejarah MA, ikatan kelas, keluarga dan geografis yang kuat menyatukan para hakim agung yang bertugas. Ikatan-ikatan ini, walaupun esensinya berbeda, dalam praktik berinteraksi dalam cara-cara kompleks yang tidak selalu bisa dibedakan dengan tugas," kata Sebastian Pompe mengawali cerita di halaman 548 buku 'Runtuhnya Institusi Mahkamah Agung' seperti dikutip detikcom, Kamis (8/3/2012).
Pompe menulis pada awal-awal MA berdiri, orang dari suku tertentu memiliki kemudahan rekrutmen MA. Latar belakang kelas ini penting dan sering disebut-sebut dalam pembicaraan. Lalu kelompok suku tertentu di MA ini membuat jaringan keluarga lewat perkawinan yang bisa dirunut hingga ke beberapa generasi ke belakang. Di MA, kelas dan ikatan keluarga berhimpitan sangat ketat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pompe lebih lanjut menulis saudara dari istri Wirjono Prodjodikoro dan Subekti juga menjadi hakim agung pada 1970-an. Saudari lain menikah dengan ketua terkenal di Pengadilan Tinggi di Semarang yang diminta menjadi hakim agung tetapi ditolak karena merasa terlalu tua. Hal ini meneguhkan signifikasi kelas dan keluarga dalam promosi.
Jaringan kekeluargaan juga dibuat oleh Ketua MA 1992-1994, Purwoto S Gandasubrata. Yaitu Purwoto lahir dari keluarga bupati, pamannya ada yang menjadi jaksa, Ketua Pengadilan Negeri, Direktur Lembaga Pemasyarakatan, Hakim Pengadilan tinggi dan Kepala Pusdiklat Departemen Kehakiman. "Dari sekian banyak paman Purwoto, ada dua anggota MA generasi pertama yaitu Wirjono dan Satochid Kartanegara. Selama masa jabatan Purwoto bisa dikatakan administrasi hakim benar-benar diatur oleh keluarga itu," tulis Pompo di halaman 550.
Tidak hanya itu, ternyata banyak hakim yang mempunyai hubungan keluarga, kelas dan asal geografis dengan Purwoto. Seperti hakim agung M Imam adalah sepupu Purwoto. Ayah hakim agung Ismail Rahardjo adalah patih ayah Purwoto. Hakim agung Adi Andojo, ayahnya adalah pegawai Pengadilan Negeri Purwokerto, tempat Purwoto berasal. Hakim agung Retnowulan juga berasal dari kota yang sama dengan Purwoto.
"Ikatan-ikatan yang diuraikan seperti di muka berfungsi sebagai perekat sosial yang kokoh. Seorang hakim agung mengemukakan hakim-hakim di MA berasal dari daerah yang sama, berbicara dalam bahasa yang sama. Begitulah mereka semuanya punya hubungan," tulis Pompe.
Seiring waktu, masuk juga hakim agung-hakim agung dari daerah lain. Isu nepotisme ini berlangsung hingga sekarang. Mantan Ketua MA Harifin Tumpa mengkader Hatta Ali yang saat ini menjadi Ketua MA. Keduanya berasal dari wilayah yang sama. Selain mengkader Hatta Ali, isu yang berhembus, Harifin menempatkan orang-orang yang berasal dari tempat Harifin berasal, Sulawesi Selatan, untuk menduduki pos-pos penting MA.
"Beliau (Harifin Tumpa) sempat dibilang rasis dan nepotis gara-gara mayoritas pejabat MA berasal dari Sulsel, kampung halamannya," ungkap Ketua Muda Perdata Agama, Andi Syamsu Alam, dalam buku biografi Harifin Tumpa halaman 387.
Lantas apa kata Harifin atas isu nepotisme ini?
"Orang bisa saja subjektif. Yang saya jadikan ketua muda (dari daerah saya) hanya Hatta Ali. Yang lain-lain, ada Andi Samsul Alam (Ketua Muda Agama), Abdul Kadir Mappong (Ketua Muda Perdata Khusus), Rum Nessa (Sekretaris MA), itu diangkat sebelum saya jadi Ketua MA. Tapi saya rasa tidak baik kalau seperti diungkit-ungkit. Bisa jadi isu SARA," kata Harifin dalam jumpa pers di kantornya, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta, Rabu (29/2/2012).
(asp/nrl)











































