"Dalam sebuah diskusi yang diselenggarakan Setara Institut baru-baru ini, Rektor UIN Jakarta menyampaikan hasil penelitiannya selama ini, soal paham radikalisasi dan terorisme. Hasilnya ditengarai 2,5 persen masyarakat dalam negeri memiliki potensi faham akan radikalisasi," ujar Direktur Penindakan BNPT, Petrus Golose, dalam rapat dengan Komisi I DPR, Senayan, Jakarta, Senin (5/3/2012).
Meski begitu, lanjut Petrus, hal itu tidak berarti angka terorisme meningkat. Begitu juga dengan angka orang yang terlibat dalam jaringan terorisme.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Atas temuan itu, Petrus mengatakan, pihaknya akan terus meningkatkan upaya pencegahan perilaku masyarakat akan faham radikalisasi dan terorisme. Hal itu dilakukan dengan berbagai cara dan strategi, tidak hanya mengedepankan dengan cara-cara pendekatan keamanan saja, tetapi juga pendekatan yang lebih humanis,dengan melibatkan para tokoh masyarakat dan agama.
"Untuk membangun kesadaran masyarakat,akan pentingnya membangun kehidupan berbangsa tanpa menggunakan cara-cara kekerasan dalamp penyelesain masalah," terangnya.
Menurut Petrus, perkembangan terakhir, kelompok terorisme juga mengarahkan teror bomnya juga diwilayah kantor kepolisian dan anggota kepolisian.
"Hingga saat ini sebanyak 22 anggota kepolisian meninggal akibat aksi kelompok terorisme. Namun dari jumlah itu,hanya 1 polisi saja yang benar-benar terlibat aksi pemberantasan terorisme. Sehingga sisanya merupakan korban yang tidak tau apa-apa," jelasnya.
(ega/gun)











































