"Untuk mendapatkan kebenaran hakiki (konfrontir) itu tidak apa-apa dan sah, karena itu kan dibutuhkan. Dibutuhkan karena adanya pertentangan kesaksian sehingga untuk dipastikan maka dilakukan hal itu," jelas pegiat antikorupsi Mas Achmad Santosa di sela-sela diskusi di Jakarta Media Center (JMC), Kebon Sirih, Jakarta, Kamis (1/3/2012).
Ota juga menjelaskan, dia tidak berbicara dalam kapasitas kasus tersebut. Dia berbicara secara umum, mengenai konfrontir antara saksi.
"Dan konfrontasi itu sebuah hal yang biasa," tambahnya.
Pria yang akrab disapa Ota ini menjelaskan, konfrontasi bukan merupakan hal yang baru dan tidak dilarang oleh hukum acara. Konfrontasi sudah biasa dilakukan.
"Jadi menurut saya itu menjadi suatu yang lumrah dan biasa dan itu tergantung juga majelis hakimnya, tidak harus tapi juga tidak dilarang," tuturnya.
Rosa dan Angie seharusnya dikonfrontir pada persidangan dengan terdakwa Nazaruddin pada Rabu (29/2). Namun konfrontasi urung dilakukan karena Rosa sakit. Tidak heran bila kemudian muncul desakan agar konfrontasi ulang kembali dijadwalkan.
Bila Rosa datang dan hadir dalam sidang konfrontasi, bisa dibayangakn fakta persidangan yang akan terungkap. Perbincangan di publik dan juga dokumen di persidangan, percakapan BlackBerry Messenger (BBM) keduanya menyimpan misteri.
Rosa menjamin kebenaran isi percakapan BBM dengan Angie pada 2010 lalu yang berisi istilah 'Apel Malang', 'Apel Wahington', 'Bos Besar', dan 'Ketua Besar' terkait Wisma Atlet. Sedang Angie membantah mentah-mentah isi percakapan BBM itu karena baru saat itu belum memiliki BB. Konfrontasi keduanya akan menguak siapa yang berbohong.
(ndr/nrl)











































