Terlahir sebagai anak hakim, Harifin Andi Tumpa meneruskan profesi ayahnya tersebut. 40 tahun lebih dia menjadi hakim dengan karier terakhir sebagai Ketua Mahkamah Agung (MA). Bagaimana dia di mata para sahabatnya?
"Saya tertarik dengan gaya beliau bermain tenis menggunakan tangan kiri sementara saat bermain golf menggunakan tangan kanan. Sebuah sinergi yang menarik dan sekaligus aneh bagi saya," kata Ketua MA Hatta Ali yang menggantikan Harifin.
Pendapat Ketua MA ini disampaikan dalam buku biografi "Pemukul Palu dari Delta Sungai Walanea" halaman 417 seperti dikutip detikcom, Kamis (1/2/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Itu isu tidak sedap dan tidak nyata," ungkap Ketua Muda Perdata Agama, Andi Syamsu Alam dalam halaman 387.
Isu ini secara tidak langsung menerpa Syamsu yang juga berasal dari Sulawesi Selatan (Sulsel). Hal ini membuat Syamsu Alam gerah. "Beliau sempat dibilang rasis dan nepotis gara-gara mayoritas pejabat MA berasal dari Sulsel, kampung halamannya," ungkap Syamsu dalam buku yang ditulis Sekretaris MA, Nurhadi.
Namun Syamsu buru-buru membantah tudingan tersebut. "Banyaknya orang Sulawesi di masa periode Harifin bukan campur tangan atau prerogatif beliau. Tetapi memang sebagian meneruskan dari kepemimpinan Pak Bagir Manan. Sebagian lagi dipilih dari hasil pemilihan secara kuorum. Jadi semua itu sama sekali bukan mentang-mentang Pak Harifin," ungkap Syamsu.
Di mata sahabat, Harifin dikenal sebagai sosok yang sabar. Tapi sekali marah, dia akan benar-benar marah. Seperti diakui oleh Ketua Muda Perdata MA, Atja Sondjaja yang menceritakan saat ada pertemuan dengan hakim beberapa waktu lalu.
Saat itu ada hakim yang berbicara terus tanpa henti dan saat hendak dijawab hakim tersebut terus saja bebicara. "Diam kau!" kata Atja menirukan kalimat Harifin saat itu.
"Saya kaget mendengarnya karena sepanjang saya mengenal beliau, baru kali ini menghardik seperti itu. Wah, ngeri sekali," kisah Atja dalam halaman 392.
(asp/nwk)










































