"Ada kecenderungan panas banget. Efeknya memberikan pemanasan secara optimal. Kalau sekarang cuaca cerah sangat terik, itu pengaruhnya," kata Peneliti Utama Astronomi dan Astrofisika Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Dr Thomas Jamaluddin, pada detikcom, Kamis (1/3/2012).
Menurut Thomas, hal itu terjadi karena saat matahari di atas kepala manusia terjadi siang hari dan tanpa ada penghalang awan. Sekitar Maret-April, saat itu matahari peralihan musim pancaroba.
"Itu biasa suhu temperatur akan mengalami maksimum," ujarnya.
Namun jika saat terjadi fenomena itu, lipatan awan menutupi matahari, maka yang dirasakan ada udara sejuk. Efek pemanasan yang optimal itu bisa dikurangi dengan faktor awan.
"Tergantung ada penghalang atau tidak. Kalau dihalangi awan akan terasa sejuk atau seperti hari-hari biasa saja," ungkapnya.
Sebenarnya, lanjut Thomas, jika angin bertiup dari daerah yang bermusim dingin saat fenomena ini terjadi, maka efeknya akan terjadi pendinginan juga. Namun karena saat ini mengalami musim pancaroba, efek yang dihasilkan adalah pemanasan.
"Panasnya yang cenderung maksimal," ucapnya.
Solo menikmati "hari tanpa bayangan" hari ini. Bandung menikmatinya Jumat 2 Maret, sedang Jakarta 4 Maret. Momen ini terjadi di tengah hari. Fenomena ini membuat tongkat yang dipasang di tengah lapangan tidak akan memiliki bayangan.
(gus/nrl)











































