"Yang rusak berat itu 194 ribu ruang kelas (SD dan SMP) dari sekian juta," kata Mendikbud, M. Nuh, Senin (27/02/2012).
Hal itu disampaikan Nuh dalam sambutannya pada acara Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan 2012, dengan tema 'Meningkatkan Kinerja dan Integritas Layanan Pendidikan dan Kebudayaan' di Pusat Pengembangan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Pusbangtendik Kemdikbud), Bojongsari, Sawangan, Depok, Jawa Barat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Alhamdulillah (rehabilitasi) ini sudah mulai, 2011 kemarin sudah selesai kira-kira Maret ini rampung, 2012 ini kita sudah mulai luncur," terang Nuh.
Sekiranya ada oknum yang menjadi pelaku pengrusakan, Nuh menegaskan pihaknya tidak akan mempersoalkan itu. Sebab, baginya yang terpenting adalah bagaimana bangunan itu bisa dimanfaatkan lagi guna proses belajar-mengajar.
"Kami tidak ingin mencari siapa yang salah, biaya untuk mencari siapa yang salah itu lebih mahal dari biaya untuk merehabnya," ujar Nuh yang disambut tepuk tangan dan tawa lebih dari 1.500 perserta Rembuk.
Menurut Nuh, yang terpenting adalah tindakan yang diambil terhadap bangunan yang rusak tersebut. Hal itu sesuai dengan filosofi yang dianut di tubuh Kemendikbud, yakni begitu bertemu persoalan, diselesaikan, cari jawaban persoalan itu.
"Kita sonder mempersoalkan persoalan karena yang dibutuhkan setiap kita ketemu persoalan adalah jawaban," tutur Nuh.
(ans/gah)











































