"(Kalau) Ada yang bayari atau mempersunting, (tetap) nggak maju. Silakan generasi-generasi muda," kata Prijanto di Gedung KPK, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (24/2/2012).
Apakah dia akan mengubah pendiriannya jika rakyat menghendaki? "Lha kalau partainya ora ono?" kata Prijanto balik bertanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Prijanto mengatakan, Yurisman berasal dari Solidaritas Nasional Anti Korupsi dan Anti Makelar Kasus.
Organisasi ini adalah salah satu organisasi yang merespons tulisannya. "Beliau merespons tulisan saya dan melapor ke KPK. Yang dilaporkan ada dalam 10 rangkaian perstiwa yang saya tulis, salah satunya adalah dugaan korupsi," katanya.
Namun Prijanto tak memberikan rincian mengenai peristiwa mana yang dilaporkan. "Nanti, sekarang baru buka pintu," elaknya.
Keengganan Prijanto ikut Pemilukada diperkuat oleh anggota DPD AM Fatwa yang mendampinginya. "Pak Prijanto tidak akan maju," kata Fatwa.
Fatwa meminta agar partai-partai tidak hanya dijadikan perahu sewaan untuk kepentingan politik. Parpol-parpol harus mencari calon pemimpin, bukan justru sebaliknya parpol yang dilamar. "Kita harus bisa menemukan pimpinan atau gubernur DKI Ali Sadikin abad 21," katanya.
(nal/nrl)











































