"Penyebab kerusuhan di penjara itu beda-beda, tapi ada hal yang sama. Pertama, adalah rezim penjara yang keras. Kedua, terjadinya pergolakan di dalam kelompok di penjara," ujar Andrianus dalam perbincangan dengan detikcom, Kamis (23/2/2012).
Rezim penjara yang keras, lanjut Adrianus, terjadi manakala petugas di penjara menerapkan pola-pola keras dalam berlaku dan berucap kepada para tahanan. Hal itu menimbulkan kesan arogan sehingga membuat para tahanan pun bersikap keras dan bahkan bisa melakukan perlawanan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sedangkan soal pertentangan antar napi di dalam penjara, kasus semacam ini kerap ditemui. Bagi beberapakelompok yang bertikai, rutan seperti rimba. Siapa kuat, dia menang.
"Kadang saling menantang, sehingga menimbulkan pergolakan," ucap Adrianus.
LP Kerobokan yang kelebihan muatan, membuat daya dobrak napi juga menjadi luar biasa. LP ini seharusnya hanya menampung sekitar 300 orang, namun nyatanya dihuni sekitar 1.000 orang.
"Karena daya dobraknya luar biasa, untuk memadamkannya juga susah," kata Adrianus.
Kerusuhan terjadi di LP Kerobokan beberapa hari terakhir. Bahkan kerusuhan berbuntut kebakaran. Sebagian besar fasilitas di LP rusak. Petugas lantas membuka negosiasi dengan pentolan LP Kerobokan.
Saat curhat ke tim negosiasi dari Polri dan TNI mereka menyebut sikap sipir penjara yang dinilai keterlaluan. Sipir dinilai terlalu otoriter. Hasil negosiasi, para napi manut dan tidak akan melakukan kekerasan. Petugas keamanan pun mulai mengendurkan kesiagaannya.
(vit/vit)











































