Pertemuan Pengurus Golkar-Kalla Tanpa Sepengetahuan Akbar
Senin, 02 Agu 2004 17:37 WIB
Jakarta -
Pertemuan antara sejumlah pengurus DPP Golkar dengan cawapres Partai Demokrat Jusuf Kalla ternyata tanpa sepengetahuan Akbar Tandjung. Ketua umum Golkar ini mengaku baru diberitahu kemudian.Akbar, yang ditemui wartawan di depan ruang kerjanya di Gedung Nusantara III, kompleks DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Senin (2/8/2004), menyatakan telah mengecek ke Ketua DPP Golkar Marzuki Darusman --yang ikut hadir dalam pertemuan, dan dijelaskan pertemuan itu diatur Aksa Mahmud, ipar Jusuf Kalla."Lalu mereka (Kalla dan pengurus DPP Golkar) ngomong-ngomong. Saya juga tidak tahu isi pembicaraannya. Cuma saya katakan kalau memang ada gagasan seperti itu, kenapa tidak diinformasikan lebih dulu," tukas Akbar yang terlihat agak gusar.Lalu dilanjutkan Akbar, "Kalau mau ketemu orang, bisa saja. Tapi kalau tahu lebih dahulu kan lebih bagus daripada dengar dari orang lain. Saya mengatakan bahwa internal kita melakukan wacana ke dalam. Tapi jangan sampai dikesankan seolah-olah kita satu sama lain ada perbedaan dan perpecahan. Karena pembicaraan resmi mengenai itu kan belum ada."Ketika ditanya kemungkinan ia tidak diberitahu karena pro-Mega, Akbar membantahnya. "Tidak ada soal keberpihakan itu. Keberpihakan saya adalah pada kepentingan partai. Secara pribadi saya tidak ada kepentingan apa-apa lagi. Saya tidak ada lagi niat menjadi menteri. Yang penting prospek perjuangan partai ke depan," tegasnya.Dijelaskan Akbar, PDIP secara terbuka melakukan pendekatan-pendekatan. Tapi kalau misalnya nanti capres lain perlu datang kediamanya maka akan diterima. "Ibu Mega datang ke tempat saya patut dihormati. Tapi tidak ada pembicaraan positif tentang komitmen."Selanjutnya Akbar menekankan jika diberi kesempatan untuk membangun kerja sama bagi pemerintah ke depan, maka yang dicarinya adalah kader Golkar yang secara objektif pantas menduduki jabatan. "Jadi tidak mungkin diambil bukan dari orang partai," ujarnya.Ketika ditanya tentang reaksinya jika kembali digelar pertemuan serupa tanpa sepengetahuannnya, Akbar menjawab tegas, "Itu kan tidak sehat. Karena organisasi harus dibangun dengan semangat terbuka. Boleh saja bertemu tapi kasih tahu dulu dan evaluasi hasil pertemuan bersama-sama."Ada sanksi? "Masalah sanksi itu soal lain"Kemudian Akbar, tanpa ditanya, menjelaskan Golkar duli memang tidak cocok dengan PDIP. Tapi ke depan mungkin saja bisa dilakukan kerja sama. "Ini bisa terjadi dalam politik. Seperti kemarin kita mau dibubarin oleh Gus Dur. Gimana tidak sakit hati. Tapi tenyata kita malah bisa merangkul Gus Dur dan PKB. Kalau yang ngerti politik pasti tidak akan mempertentangkan," demikian Akbar Tandjung.
(gtp/)










































